<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011</id><updated>2012-01-05T23:37:11.611+09:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Sosial'/><category term='Sastra'/><category term='Klipping'/><title type='text'>Mandar Online</title><subtitle type='html'>Di tempat ini kami ingin membagi cerita tentang Mandar: sejarah, tradisi, perkembangan, bahkan cerita-cerita yang jarang -atau bahkan tidak pernah- terdengar....</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-6369900656966235012</id><published>2008-02-04T16:57:00.000+09:00</published><updated>2008-02-04T16:58:29.668+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Perahu Sandeq Masyarakat Mandar Terancam Punah</title><content type='html'>Dimuat di harian Kompas, 15 April 2006&lt;br /&gt;*****************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polewali, Kompas - Perahu tradisional khas masyarakat Mandar, sandeq, saat ini terancam punah. Para nelayan di Sulawesi Barat itu telah beralih menggunakan perahu motor karena perahu jenis ini daya jangkaunya lebih jauh sehingga hasil tangkapan mereka lebih banyak.&lt;br /&gt;Sejumlah nelayan Desa Sabang Subik, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar hari Kamis (13/4) menuturkan, saat ini di permukiman nelayan di Desa Sabang Subik diperkirakan tinggal tiga orang yang masih bertahan menggunakan perahu sandeq. Di desa itu, 95 persen penduduknya adalah nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang masih menggunakan sandeq hanya menggunakan tidak jauh dari bibir pantai. Paling sekitar 10 mil dari pantai," kata Amang (28), seorang nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan sekarang, katanya, umumnya mencari ikan sampai ke Bontang (Kalimantan Timur), Nusa Tenggara Barat, dan Donggala (Sulawesi Tengah) yang jaraknya jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembuat sandeq, Taslim (50), membenarkan hal itu. Menurut Taslim, sejak ia membuat sandeq tahun 1982, pesanan sandeq terus merosot memasuki tahun 1990-an.&lt;br /&gt;"Tahun 1970-an hingga 1980- an dalam setahun pesanan sandeq bisa mencapai 30 buah. Tapi, tahun 1990-an hampir tidak ada yang pesan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, saat ini jika ada yang memesan sandeq, itu hanya digunakan untuk balapan, bukan digunakan untuk mencari ikan. Itu pun hanya satu tahun sekali saat balapan sandeq digelar pada perayaan Hari Kemerdekaan RI. Harga sebuah perahu sandeq sekitar Rp 30 juta dan dikerjakan sekitar dua bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Taslim, pembuat sandeq asal Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Hasanuddin (56), mengatakan, nelayan memilih menggunakan perahu motor karena dengan perahu motor mereka bisa lebih leluasa mencari ikan di lokasi yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mencari ikan dengan sandeq tetap bisa mencapai jarak yang jauh. Selama ini sudah terbukti, sandeq dapat berlayar hingga Thailand dan Perancis. Namun, karena sandeq hanya mengandalkan layar, maka waktu tempuhnya lebih lama," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, menurut Hasanuddin menghambat nelayan untuk mencari ikan dengan sandeq.&lt;br /&gt;Menurut dia, kendati event balapan sandeq cukup membantu upaya pelestarian sandeq, dia berharap pemerintah setempat atau pemerintah pusat mencari alternatif agar sandeq tidak punah dan tidak lagi hanya untuk balapan. (DOE)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-6369900656966235012?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/6369900656966235012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=6369900656966235012' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6369900656966235012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6369900656966235012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2008/02/perahu-sandeq-masyarakat-mandar.html' title='Perahu Sandeq Masyarakat Mandar Terancam Punah'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-5651049763295492130</id><published>2008-02-04T16:30:00.001+09:00</published><updated>2008-02-04T16:41:23.646+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Perahu Padewakang Berasal dari Mandar?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ditulis oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, pernah dimuat di Radar Sulbar, dan di-posting di Kampung Panyingkul&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;******************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R6a_T7Zy9FI/AAAAAAAAAGY/n2R3L4VZMaA/s1600-h/padewakang+cut.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163024371911160914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R6a_T7Zy9FI/AAAAAAAAAGY/n2R3L4VZMaA/s320/padewakang+cut.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Satu bulan terakhir ini saya mendapat dua kali pertanyaan “Apakah perahu padewakang berasal dari Mandar?”, oleh seorang budayawan muda dan anggota DPRD Polman, dan satu pernyataan bahwa “Perahu padewakang berasala dari Mandar”, yang dikemukakan pejabat penting di Kabupaten Polman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dugaan mengapa istilah “perahu padewakang” santer dibicarakan, khususnya di Polman, disebabkan adanya pihak yang datang menawarkan gambar (foto reproduksi) perahu padewakang ke legislatif dan eksekutif di Polman. Kepada mereka digemborkan bahwa sejatinya perahu padewakang berasal dari Mandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit kaget dengan pernyataan tersebut. Sejauh pengalaman saya mempelajari perahu-perahu di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat atau nusantara pada umumnya, saya belum pernah menemukan pendapat baik ilmiah maupun “konon” yang mengatakan perahu padewakang berasal dari Mandar. Atau dengan kata lain, pendapat bahwa perahu padewakang berasal dari Mandar amat meragukan dan sampai saat ini belum ada alasan ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Istilah “Padewakang”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “&lt;em&gt;padewakang&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;paduwakang&lt;/em&gt;” (Sulawesi) dan “&lt;em&gt;paduwang&lt;/em&gt;” (Madura) , mempunyai akar kata wa, wangka, waga, wangga, dan bangka dari bahsa Austronesia. Istilah tersebut diasosiasikan pada “perahu bercadik atau perahu kecil” (Adrian Horridge, &lt;em&gt;The Prahu: Traditional Sailing Boat of Indonesia&lt;/em&gt;, 1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat lain menuliskan bahwa perahu padewakang adalah “perahu Bugis berukuran kecil yang menggunakan layar persegi, yang melintang” (Acciaioli, &lt;em&gt;Searching for Good Fortune&lt;/em&gt;, dalam Manusia Bugis, Christian Pelras, 2006); dan “perahu dagang Bugis berukuran besar yang digunakan pada abad ke-19, dengan dua atau tiga tiang layar, berlayar persegi, dan berhaluan tinggi” (Adrian Horridge, &lt;em&gt;Sailing Craft of Indonesia&lt;/em&gt;, 1986).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun referensi utama yang memperlihatkan model/replika perahu padewakang terdapat dalam atlas etnografi Boegineesch-Hollandsch Woordenboek yang ditulis oleh ahli filologi Belanda bernama B. F. Matthes dan terbit pada tahun 1874 sebagaimana yang terdapat dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, Volume 2: Jaringan Asia, Denys Lombard (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Defenisi Perahu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas lebih lanjut, baiknya kita pahami dulu defenisi tentang perahu. Hal ini penting sebab ada beberapa jenis perahu yang sebenarnya sama tapi nama/istilah beda.&lt;br /&gt;Secara dasar, jenis-jenis perahu tradisional Nusantara dapat digolongkan dengan tiga cara: Ada istilah yang menandai jenis layarnya, ada yang menggambarkan bentuk lambung, dan ada nama yang berasal dari cara dan tujuan pemakaian perahu.  Dengan cara penamaan ini memang agak susah buat orang awam untuk mengerti perbedaan-perbedaan yang jelas sekali bagi para pelaut dan pengrajin perahu – apalagi karena ‘secara kebiasaan’ hanya salah satu dari istilah ini digunakan untuk menandai sebuah tipe tertentu, dan tiada kepastian apakah istilah yang menandai jenis layar, tipe lambung atau tujuan penggunaannya menjadi ‘nama’ sejenis perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah-istilah itu dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain, dan terutama dalam bidang perikanan tradisional terdapat ratusan jenis perahu lokal yang masing-masing ‘punya nama’ tersendiri.  Beberapa contoh dari Sulawesi Selatan: Nama perahu &lt;em&gt;baqgoq&lt;/em&gt; asal daerah Mandar dan Barru bereferensi pada tipe lambung perahu, bila ia memakai layar jenis ‘nade’ – jika ia dilengkapi dengan jenis layar ‘lete’, maka pelaut-pelaut akan menamakannya &lt;em&gt;baqgoq&lt;/em&gt; maupun lete; perahu-perahu yang menggunakan layar jenis &lt;em&gt;schooner-ketch&lt;/em&gt; (‘pinisiq’) dinamakan pinisiq, biar lambung perahu berbentuk padewakang, palari atau lambo; perahu tipe &lt;em&gt;patorani&lt;/em&gt; (‘pencari ikan terbang [torani]’) asal Galesong, Sulawesi Selatan, terdiri dari lambung pajala besar atau padewakang kecil dan memakai layar jenis ‘&lt;em&gt;tanjaq’&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, ternyata sejak dahulu sampai sekarang terdapat suatu ‘standar’ penamaan tipe-tipe perahu yang berlaku bagi para pelaut Nusantara, baik asal dalam maupun luar negeri: Penemuan Knaap mengenai istilah akan jenis-jenis perahu dan kapal di Jawa Utara sudah disebutkan di atas, dan peristilahan akan tipe-tipe perahu kontemporer yang digunakan pelaut-pedagang antar-pulau tradisional asal berbagai daerah Nusantara sangat seragam.  Jadi, sebelum saya dapat membahas beberapa contoh konkrit evolusi tipe-tipe perahu tertentu, terasa perlu memberikan suatu outline tentang keanekaragaman tipe-tipe perahu Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perahu Padewakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu padewakang sudah ada, paling lambat, pada abad ke-18 merupakan tipe utama dari sekian banyak jenis perahu dagang jarak jauh Sulawesi Selatan.  Padewakang-padewakang milik pedagang Mandar, Makassar dan Bugis melayari seluruh Samudera In&amp;shy;donesia di antara Irian Jaya dan Semenanjung Malaya, dan sekurang-kurangnya sejak abad ke-19 secara rutin berlayar sampai ke Australia untuk mencari tripang; dalam suatu buku dari abad silam bahkan terdapat gambaran sebuah perahu padewakang yang dicap ‘perahu bajak laut asal Sulawesi di Teluk Persia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe perahu ini menggambarkan dengan baik sifat-sifat perahu Nusantara sejak kedatangan kekuatan kolonial, yaitu sebuah lambung yang –menurut standar Eropa– berukuran sedang yang dilengkapi dengan satu sampai dua geladak, kemudi samping dan layar jenis tanjaq yang dipasang pada sebatang tiang tripod tanpa laberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan layar fore-and-aft semakin jelas bagi para pelaut Sulawesi, sehingga mereka berusaha untuk mengkombinasikannya dengan layar tanjaq yang selama ini terbukti sesuai dengan kondisi-kondisi pelayaran mereka.  Salah satu hal yang secara pasti menjadi hambatan bagi para pelaut itu disebutkan oleh Wallace – layar fore-and-aft pada tiang buritan dan tamberang haluan terbuat dari kain kanvas, sedangkan layar-layar tanjaq terdiri dari tenunan daun gebang yang disebut “&lt;em&gt;karoroq&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lahirnya Pinisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi kedua tipe layar itu ternyata belum layak dipakai, dan kita bisa memastikan bahwa para pelayar bercoba-coba untuk mendapatkan solusinya. Dari percobaan-percobaan ini terakhirnya lahir layar pinisiq yang selama hampir 100 tahun menjadi jenis layar khas perahu-perahu Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layar dan perahu jenis pinisiq mulai bermunculan di Nusantara pada sekitar tahun 1840-an.  Konon ceritanya, di Kuala Trengganu tinggallah seorang Perancis atau Jerman, yang telah melarikan diri dari sebuah kapal layar berukuran besar asal Eropa (atau tak mau ikut ke Indonesia ketika Malaka diserahkan oleh Belanda kepada Inggris) ke Trengganu di mana ia menikahi seorang gadis Melayu dan bekerja sebagai tukang besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Versi romantisnya’ adalah, bahwa pada suatu hari Raja Trengganu kala itu, Sultan Baginda Omar, meminta si bule membantu buat sebuah perahu yang menyerupai perahu barat yang paling modern, sehingga dibangunkannya suatu kapal sekunar yang dipakai sebagai perahu kerajaan; ‘perahu pinisiq pertama’ serta si bule yang bernama Martin Perrot itu dilihat dan ditemui oleh seorang nakhoda Inggris pada tahun 1846 ketika berlabuh di Kuala Trengganu.&lt;br /&gt;Menurut tradisi para pelaut Melayu, perahu itulah yang dijadikan contoh pertama untuk membangun perahu-perahu sejenis yang berikutnya dinamakan pinas atau penis, mungkin sekali dengan meniru kata pinasse, yang dalam bahasa Perancis dan Jerman pada zaman itu menandai sejenis kapal layar berukuran sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan bukan hanya satu perahu itu yang pada abad silam sempat dilihat oleh para pelaut Makassar, Mandar dan Bugis yang kini terkenal dengan perahu pinisiq-nya, tetapi sejak awal abad ke-19 semakin banyak pedagang-pelaut Inggris yang beroperasi dari Singapura maupun para pedagang partikuler Belanda di Indonesia mulai menggunakan perahu jenis sekunar Barat yang baru dirancang di Amerika pada dekade-dekade akhir abad sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis layar pinisi tampaknya seperti perahu schooner ketch asal Eropa: Tiang haluan lebih tinggi daripada tiang di buritan, dan pada kedua tiangnya terdapat layar jenis fore-and-aft. Namun, layar jenis pinisiq itu dalam beberapa hal berbeda dari teladannya - misalnya, sedangkan pada sekunar barat andang-andang layar dinaik-turunkan dengan layarnya, pada sebuah perahu pinisiq andang-andang itu terpasang tetap pada pertengahan kedua tiang, dan layarnya dikembangkan dengan menariknya ke ujung andang-andang itu bak sehelai gorden.&lt;br /&gt;Sebuah perahu pinisiq lengkap memakai tujuh sampai delapan helai layar: Tiga helai layar bersegitiga yang terpasang pada laberang depan tiang haluan, pada masing-masing tiangnya sehelai layar besar bersegi empat serta sehelai layar topser bersegitiga di atasnya, dan pada laberang depan tiang buritan sering terdapat lagi sehelai layar bersegi-tiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan layar-layar ini perahu pinisiq menjadi sangat atraktif bagi pelaut Sulawesi: Nooteboom (1940) melaporkan dari Mandar, bahwa “Alasan yang mendorong orang Mandar untuk meninggalkan layar tanjaq yang digunakan dari dahulu demi layar pinis yang lebih bersifat Eropa menurut Haji Daeng Pale adalah kemudahan dalam pemakaiannya. Bila anginnya bertambah, orang di atas perahu yang menggunakan layar tanjaq harus menggulung layarnya yang begitu besar itu ke atas bom bawahnya, suatu pekerjaan yang berat dan berbahaya.  Layar pinis dapat dikurangi bagian demi bagian [… Ini] dimulai dengan mentutup layar topser dan layar anjungan.  Jika anginnya bertambah lagi, maka agak gampang mengurangi layar besarnya dengan menariknya ke arah tiang, sehingga perahu dengan menggunakan layar yang ditutup setengah itu dan satu atau lebih layar anjungan masih bergerak secukupnya supaya daya kemudi tak hilang.  Selain ini, terdapat pula perbedaan dalam kemampuan berlayar, yakni bahwa layar pinis itu dapat berlayar lebih dekat ke arah angin. […] Yang paling penting adalah bahwa [perahu] dapat berbalik haluan dengan lebih gampang bila beropal-opal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Padewakang Berubah Menjadi Pinisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Horst Liebner, ahli maritim Mandar, pada awalnya layar pinisiq dipasang ke atas lambung perahu padewakang dan sejenisnya; akan tetapi, ketika para pelaut dan pengrajin perahu semakin sadar atas cara pemakaiannya, lambung yang dipilih adalah jenis palari saja – tipe lambung yang sangat runcing dan ‘pelari’ itu memanglah yang paling sesuai dengan layar sekunder. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusi ini terjadi dalam beberapa tahap: Tipe lambung padewakang dirancang dengan lebih runcing dan ditingkatkan dengan beberapa papan tambahan yang menyebabkan, bahwa dek haluan menjadi lebih rendah daripada dek utama dan buritan, dan bahwa konstruksi balok-balok guling seolah-olah ‘terbang’ di belakang buritan perahu (&lt;em&gt;palari salompong ambeng rua kali&lt;/em&gt; [istilah-istilah ini berasal dari Bahasa Konjo]); berikutnya bagian geladak buritan (ambeng) diteruskan hingga balok-balok kemudi menyatu dengannya (&lt;em&gt;palari salompong&lt;/em&gt;); dan tahap terakhir adalah meningkatkan linggi haluan supaya seluruh geladak menjadi lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe lambung terakhir ini digunakan sampai perahu pinisiq diganti dengan tipe-tipe PLM, ‘perahu layar motor’.  Pada awal tahun 1970-an ribuan perahu pinisiq-palari yang berukuran sampai 200 ton muatan, armada perahu layar komersial terbesar di dunia pada saat itu, sempat menghubungi semua pelosok Samudera Indonesia dan menjadi tulang rusuk perdagangan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1930-an perahu-perahu ukuran kecil dan sedang di seluruh Nusanara semakin sering menggunakan layar jenis nade sebagai penggeraknya. Jenis layar ini pun berasal dari pengaruh barat, yaitu perahu-perahu layar jenis cutter dan sloop.  Layar nade itu terdiri dari satu atau dua helai layar jib di depan dan sehelai layar besar di belakang tiang. Pelaut yang paling kenal dengan perahu-perahu layar yang memakai layar nade berasal dari Pulau Buton di Sulawesi Tenggara; mereka pun menggunakan sejenis lambung perahu tertentu bernama lambo yang berasal dari perpaduan contoh-contoh perahu barat dengan teknik tradisional Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beberapa sumber, para pelaut cenderung memilih tipe lambung lambo dengan layar nade karena pemakaiannya bahkan lebih gampang dan kemampuannya dalam beropal-opal konon lebih baik lagi daripada perahu pinisiq.  Pada awalnya, tipe baru ini dimaksudkan sebagai pesaing perahu palari-pinisiq; akan tetapi, setelah daya muat perahu pinisiq semakin ditingkatkan, maka tipe lambo-nade digunakan sebagai perahu dagang yang berukuran sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pada tahun 1970-an semakin banyak perahu dilengkapi dengan mesin penggerak, maka dengan cepat baik lambung perahu maupun layarnya diubah: Untuk dipasangi dengan sebuah mesin jenis-jenis lambung tradisional terbukti tak cocok, sehingga lambung tipe lambo menjadi alternatifnya.  Pada tahun-tahun berikutnya, daya muatnya semakin ditingkatkan, sehingga kini terdapat perahu yang bisa memuat lebih daripada 300t; hampir semua perahu dagang tradisional itu kini menggunakan lambung jenis lambo yang diperbesarkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena layarnya sekarang hanya berfungsi sebagai pembantu, maka di atas perahu tipe PLM ini biasanya terdapat satu tiang saja: Memakai banyak layar artinya membawa awak banyak, dan pada zaman ini tenaga manusia serta gajinya semakin diperhitungkan.  Perahu-perahu yang berukuran besar tetap memakai layar bak pinisi satu tiang, sedangkan perahu ukuran sedang dilengkapi dengan layar nade.  Akan tetapi, baik perahu yang memakai layar pinisiq tiang tunggal maupun layar nade tak lagi dapat berlayar dengan tenaga angin saja - pada umumnya ukuran layarnya kecil, dan tiangnya terlalu pendek, sehingga layar hanya dibuka saat arah angin menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini belum ada pendapat yang bisa membuktikan asal perahu padewakang, termasuk Mandar. Untuk menyimpulkan amat sulit sebab hampir semua komunitas pelaut di Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Bajau) dan Sulawesi Barat (Mandar) menggunakan perahu padewakang. Menyebut berasal dari Sulawesi pun belum kuat, sebab di Madura pun ada. Belum lagi bila kita melihat relief perahu di Candi Borobudur (dibuat 1000 tahun lalu) yang bentuknya ada kemiripan dengan perahu padewakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, mengatakan perahu padewakang berasal dari Mandar sangatlah mengada-ada dan tidak ilmiah! Yang bisa kita sosialisasikan atau kampanyekan adalah bahwa perahu padewakang juga digunakan oleh pelaut dan pedagang Mandar, bukan hanya Bugis. Ini penting sebab di sekian banyak referensi padewakang diidentikkan dengan Bugis (saja). Jadi kita pun adalah pewaris sah atas jenis perahu padewakang dan perahu pinisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, menjadikan dua jenis perahu di atas sebagai, misalnya ada museum bahari di Mandar, koleksi mempunyai dasar ilmiah yang kuat. Ya, sebab dulu moyang kita juga membuat dan menggunakan dua jenis perahu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, bentuk kebudayaan bahari yang bisa dikatakan berasal dari Mandar adalah teknologi alat bantu penangkapan rumpon (“&lt;em&gt;roppo&lt;/em&gt;” atau “&lt;em&gt;roppong&lt;/em&gt;” dalam bahasa Mandar). Kalau yang ini ada pendapat ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang harusnya diutamakan oleh pemerintah di Sulawesi Barat sebagai aikon (icon) budaya bahari Mandar adalah rumpon. Selain memang berasal dari Mandar, juga pengaruh teknologi ini sudah meng-internasional. Beda dengan sandeq yang hanya digunakan pelaut Mandar sendiri; beda dengan padewakan dan pinisi yang hanya sebatas di Sulawesi dan saat ini sudah tak digunakan lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-5651049763295492130?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/5651049763295492130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=5651049763295492130' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/5651049763295492130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/5651049763295492130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2008/02/perahu-padewakang-berasal-dari-mandar.html' title='Perahu Padewakang Berasal dari Mandar?'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R6a_T7Zy9FI/AAAAAAAAAGY/n2R3L4VZMaA/s72-c/padewakang+cut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-6367777759406503546</id><published>2008-02-02T13:38:00.000+09:00</published><updated>2008-02-02T13:45:26.108+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Sayyang Pattuddu’ dan Khatam Khas Mandar</title><content type='html'>Oleh: Reny Sri Ayu Taslim&lt;br /&gt;Dimuat di Kompas tanggal 30 Juni 2007&lt;br /&gt;************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, medio April lalu, matahari bersinar terik di atas Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (300 kilometer barat Makassar). Kendati sinarnya menyengat kulit, warga desa tampak tak kehilangan semangat dan kegembiraan menyambut prosesi khatam Al Quran di desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi warga berduyun-duyun mendatangi masjid, membawa berbagai hantaran dalam sebuah &lt;em&gt;balasuji&lt;/em&gt; (wadah berbentuk segi empat besar yang terbuat dari bambu). Isi &lt;em&gt;balasuji&lt;/em&gt; beragam, di antaranya pisang, kelapa, gula merah, beras, dan kue-kue tradisional. Mereka yang sudah sampai di masjid kemudian berzikir dan membaca doa hingga menjelang siang. Saat zikir usai, isi &lt;em&gt;balasuji&lt;/em&gt; dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Tak jarang pula pemilik balasuji saling bertukar isi dengan pembawa &lt;em&gt;balasuji&lt;/em&gt; lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, di rumah-rumah warga, kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka masakan dan kue-kue. Umumnya di rumah-rumah yang penghuninya menggelar acara khitan, ruang tamu disulap menjadi tempat makan lesehan dengan baki dan tatakan makan lainnya yang penuh berisi beragam jenis makanan dan kue-kue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah begini, siapa pun yang singgah wajib mencicipi hidangan yang disajikan. Bahkan biasanya dari desa lain pun ada yang datang menyaksikan acara ini dan mereka juga dipanggil naik ke atas rumah untuk makan. Jadi, biasanya kami memang menyiapkan cukup banyak makanan," kata Muliani, warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan dan keramaian tidak hanya berlangsung pagi hingga siang hari itu. Malam sebelumnya, rumah-rumah warga, yang putranya mengikuti acara khatam, sudah diramaikan suara orang-orang yang membacakan ayat-ayat suci Al Quran, lagu-lagu kasidah, dan tetabuhan rebana. Alunan syahdu itu terdengar sejak waktu shalat isya hingga menjelang pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kuda Berhias&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba menjelang sore. Puncak acara ini ditandai dengan arak-arakan anak-anak yang tamat mengaji (khatam Al Quran) keliling desa. Anak-anak yang diarak masing-masing menunggangi kuda berhias. Kudanya pun bukan sembarangan. Kuda-kuda tunggangan itu mampu berjalan sembari menari. Kuda-kuda tersebut menari diiringi tabuhan rebana dan pembacaan pantun khas Mandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, kegembiraan warga tumpah ruah bersamaan dengan dimulainya arak-arakan. Di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakan kuda, warga biasanya berdesak-desakan bahkan banyak di antaranya yang berjalan mengikuti arak-arakan. Biasanya, setiap kali kuda yang diunggulkan lewat, mereka akan bersorak-sorai mengelu-elukan kuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorak-sorai bertambah ramai bila tarian kuda cukup lama dan bagus. Memang di sela arak-arakan, kuda beberapa kali berhenti kemudian memain-mainkan kaki depannya secara bergantian sembari menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kenan layaknya sedang menari.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sayyang Pattuddu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (kuda menari), begitu, suku Mandar menyebut acara ini. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sayyang Patuddu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; di sebagian wilayah di Kabupaten Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju lazim ditampilkan untuk merayakan keberhasilan anak-anak yang khatam Al Quran. Acara khatam yang diwarnai &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sayyang Pattuddu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ini hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, yakni setiap bulan Maulid. Biasanya acara tersebut diselenggarakan per desa/kelurahan/kecamatan dengan waktu dan jumlah peserta yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;60 Peserta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara tahun ini diikuti 60 peserta yang berarti juga akan diikuti 60 kuda. Ke-60 peserta ini bukan hanya anak-anak warga desa setempat, tetapi juga anak-anak dari luar desa, luar kabupaten, bahkan luar Sulawesi Barat, yang orangtuanya berasal dari desa ini.&lt;br /&gt;Satu per satu kuda diatur berbaris di depan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas kuda duduk seorang &lt;em&gt;pissawe&lt;/em&gt; (pendamping) yang mengenakan pakaian adat mandar lengkap. Lazimnya yang menjadi pissawe adalah perempuan. Tak mudah menjadi seorang &lt;em&gt;pissawe&lt;/em&gt; karena butuh keseimbangan tubuh yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, saat duduk di atas kuda, &lt;em&gt;pissawe&lt;/em&gt; harus duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang dengan lutut mengarah ke depan dan satu kaki lainnya terlipat dengan lutut mengarah ke atas dan telapak kaki berpijak pada badan kuda. "Dengan model duduk seperti ini, keseimbangan harus betul-betul terjaga saat kuda yang ditunggangi menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menggeleng-gelengkan kepala. Walaupun ada yang membantu memegang kuda, tetapi kalau tidak kuat, bisa jatuh," ujar Hasmawiah, salah satu &lt;em&gt;pissawe&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang &lt;em&gt;pissawe&lt;/em&gt; duduk anak yang khatam mengaji atau yang disebut &lt;em&gt;to tamma’&lt;/em&gt;. Yang perempuan mengenakan pakaian muslim dan penutup kepala, sedangkan anak laki-laki mengenakan baju gamis yang dilengkapi penutup kepala layaknya digunakan orang di Timur Tengah. Di samping kiri dan kanan kuda, empat orang memegang kuda. Mereka disebut &lt;em&gt;pissarung&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada pula seorang &lt;em&gt;pakkaling dadda’&lt;/em&gt; berdiri di bagian depan, tepat di sebelah kepala kuda. &lt;em&gt;Pakkaling dadda’&lt;/em&gt; adalah orang yang bertugas membaca pantun dalam bahasa mandar sepanjang arak-arakan dilakukan. Biasanya pantun yang diucapkan berisi kata atau kalimat yang lucu dan selalu disambut penonton dengan sahutan, teriakan, celetukan, atau tepukan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kuda ada pemain rebana yang berjumlah 6-12 orang. Kelompok ini terus memainkan rebana dengan irama tertentu sembari kerap berjingkrak-jingkrak, mengiring kuda menari. Pukulan rebana biasanya akan terhenti sejenak bila &lt;em&gt;pakkaling dadda’&lt;/em&gt; mengucapkan pantun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ritual Istimewa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi warga suku Mandar, suku yang sebagian mayoritas di Sulawesi Barat, khatam Al Quran adalah sesuatu yang sangat istimewa sehingga tamatnya membaca 30 juz Al Quran tersebut disyukuri secara khusus. Namun, tidak semua warga yang berdiam di Sulawesi Barat menggelar acara &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sayyang Pattuddu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. "Bagi kami, tamat membaca Al Quran adalah sesuatu yang penting sebelum memasuki bangku sekolah dasar. Makanya, anak saya sudah belajar mengaji sejak usia lima tahun. Tidak butuh waktu lama, asal tekun, tidak sampai setahun, dia sudah tamat," kata Zainuddin (40), warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samaruddin, guru mengaji setempat, juga mengatakan, umumnya anak-anak di daerah itu hanya butuh waktu sekitar setahun untuk belajar mengaji sekaligus menamatkan seluruh bacaan Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal acara penamatannya, tidak jadi soal kapan akan dilaksanakan. Kerap ada anak yang sudah tamat mengaji pada usia lima tahun, tetapi baru diacarakan saat berusia 10 tahun. "Tergantung orangtuanya saja, kapan punya uang. Yang jelas, tamat dulu. Anak saya baru saya acarakan saat dia sudah mau lulus SD. Padahal, tamat mengajinya sejak akan memasuki SD ," ujar Badriah, yang memperingati khatam Al Quran Suriani pada saat anaknya itu berusia 13 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu eratnya pertalian antara tamat mengaji dan gelar adat &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sayyang Pattuddu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; sampai-sampai suku Mandar yang sudah berdiam di luar Sulawesi Barat akan kembali ke daerahnya untuk mengacarakan tamat mengaji itu. "Biasanya, setahun sebelum acara, orangtua sudah mulai mendaftarkan anaknya. Biasanya untuk menentukan urut-urutan peserta, kami mengundi," ujar Hamzah, panitia acara khatam tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tahu sejak kapan persisnya acara khatam diramaikan dengan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Sayyang Pattuddu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. "Saat saya masih kecil, saya sudah diacarakan seperti ini. Kata orangtua saya, mereka pun sudah diacarakan seperti itu sejak kecil oleh nenek saya," kata Samaruddin menceritakan.&lt;br /&gt;Kendati tidak jelas kapan mulainya, hingga kini warga di beberapa wilayah di Poliwali Mandar, Majene, dan Mamuju masih melakoni tradisi ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-6367777759406503546?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/6367777759406503546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=6367777759406503546' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6367777759406503546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6367777759406503546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2008/02/sayyang-pattuddu-dan-khatam-khas-mandar.html' title='Sayyang Pattuddu’ dan Khatam Khas Mandar'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-7644452286514185310</id><published>2008-02-02T13:20:00.002+09:00</published><updated>2008-02-02T13:23:10.537+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Makanan Raja-raja ala Mandar</title><content type='html'>Oleh: Anung Setyahadi&lt;br /&gt;Dimuat di Kompas tanggal 9 September 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung ke perkampungan nelayan Mandar di Sulawesi Barat tidaklah berkesan jika belum mencicipi gulai telur ikan terbang dan masakan serba ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya makanan raja-raja, beberapa makanan lezat khas Mandar hanya disajikan saat acara ritual atau hajatan besar seperti pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran jitu untuk menikmati masakan itu adalah datang ke daerah Mandar saat ada pesta pernikahan, sandeq race, atau pesta nelayan (mapandeqsasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung dapat menikmati hidangan Mandar langsung dari tangan pertama. Ketika meliput acara sandeq race pada 22-24 Agustus lalu, saya menginap di rumah Mohammad Ge yang asal Mandar, di Ujung Lero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dijamu masakan gulai ikan terbang yang terkenal itu. Bila Anda tidak punya kenalan warga setempat, masakan sejenis bisa didapat di beberapa hotel di Makassar, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;Daerah Mandar dengan perkampungan nelayannya berada di sepanjang Selat Makassar, dari Kabupaten Mamuju, Majene, hingga Polewali Mandar. Ada beberapa kampung Mandar di tengah kampung Bugis, seperti Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas masakan Mandar adalah rasa yang pedas, gurih, sedikit asam, dan minim kuah. Variasi makanan sangat beragam mulai dari yang paling istimewa, yaitu gulai telur ikan terbang, pupu (semacam perkedel segi tiga dari ikan cakalang), sarundeng ikan, songko ubi, sampai buras.&lt;br /&gt;Setiap keluarga nelayan Mandar pasti menyimpan telur ikan terbang kering. Jumlahnya tidak banyak karena hanya untuk jamuan khusus bagi tamu-tamu istimewa. Maklum, harga telur ikan terbang berkisar antara Rp 180.000 sampai Rp 300.000 per kilogram kering. Nelayan memilih menjual telur ikan daripada menyantap sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sensasi Rasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma gurih gulai telur ikan yang masih mengepulkan asap sangat menggoda selera. Mencicipi kuahnya yang berwarna kekuningan, selera makan semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah tersengat sensasi gurih, pedas, bercampur sedikit asam. Bumbu cabai dan merica memberi sensasi pedas di mulut serta hangat yang menjalar perlahan di perut. Rasa asam mengalirkan air liur seperti efek buah zaitun untuk membangkitkan selera makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telur ikan dalam kuah gulai masih berbentuk lembaran-lembaran sebesar bungkus rokok. Lembaran itu terdiri atas butir-butir telur yang melekat pada serat alami seperti benang halus berwarna putih. Saat dikunyah, ada lembut telur ikan bercampur renyah serat pengikat telur.&lt;br /&gt;"Kaviar ini enak sekali. Ini makanan terbaik yang saya temui di sini," ujar seorang kawan dari India yang ikut dalam Sandeq Race 2007. Teman tadi menggunakan nama telur ikan, biasanya ikan terbang, yang diasin dan umumnya mengacu pada telur ikan dari Laut Kaspia yang diekspor ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulai telur ikan Mandar sajian keluarga Mohammad Ge sangat nikmat karena masih segar, baru sebulan dikeringkan. Untuk memperoleh telur yang segar, datanglah antara bulan Mei hingga September saat musim berburu telur ikan terbang (motangnga). Telur ikan itu kami nikmati di Ujung Lero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gulai telur ikan terbang biasa disajikan bersama pupu, songko ubi, buras, dan ikan bumbu cabai. Pupu termasuk masakan khas Mandar. Makanan sejenis perkedel ini dibuat dari ikan cakalang dikukus kemudian dibuang tulangnya dan ditumbuk halus. Daging ditumbuk selama 30 menit bersama serai, lengkuas, garam, bawang merah, merica, cabai merah, dan jeruk nipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum digoreng, daging dicampur dengan adonan tepung beras. Adonan dibentuk segi tiga sama sisi baru digoreng di atas api kecil supaya matang merata hingga ke dalam. Bila kulit luar berwarna coklat, pupu sudah matang. Jika kulit luar masih putih, daging bagian dalam belum matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupu yang masih hangat menebar aroma harum rempah-rempah dan gurih ikan cakalang. Menggigit pupu tidak perlu usaha keras karena perkedel ini empuk. Sensasinya lembut di dinding mulut. Kulit pupu yang kering terasa renyah di antara kelembutan daging cakalang.&lt;br /&gt;Di lidah, rasa pedasnya tidak terlalu kuat, tetapi menjalar lembut. Gurih daging ikan bertambah lengkap dengan rempah-rempah yang ditumbuk halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupu biasa disantap dengan buras, ketupat, atau songko ubi. Ketupat di tangan kanan, pupu di tangan kiri, digigit bergantian. Saat pagi hari, pupu menjadi sarapan istimewa ditemani teh atau kopi panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bahari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka makanan khas nelayan Mandar itu lahir dari budaya bahari. Rasa pedas cabai dan hangat merica untuk mengusir masuk angin saat melaut. Masakan juga cenderung kering supaya awet dibawa melaut berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan kuliner nelayan Mandar itu memang belum terlalu dikenal. Kalau tertarik mencicipinya, silakan berkunjung ke perkampungan nelayan Mandar di Sulawesi Barat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-7644452286514185310?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/7644452286514185310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=7644452286514185310' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/7644452286514185310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/7644452286514185310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2008/02/makanan-raja-raja-ala-mandar.html' title='Makanan Raja-raja ala Mandar'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-4325694971183299064</id><published>2008-01-12T16:22:00.000+09:00</published><updated>2008-01-12T16:39:48.781+09:00</updated><title type='text'>Halal bi Halal Masyarakat Mandar Balikpapan 2007</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;em&gt;Sudah pernah dimuat di &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.panyingkul.com/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.panyingkul.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt; pada tanggal 20 Nopember 2007&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Kalimantan adalah kampung halaman kedua bagi orang Sulawesi, khususnya yang berasal dari Sulawesi Barat dan Selatan. Di hampir setiap tempat di sepanjang pesisir timur pulau Kalimantan, terdapat kelompok masyarakat yang berasal dari Sulawesi. Bahkan beberapa tahun lalu, ada data yang menyebutkan bahwa penduduk Kalimantan Timur sekitar 60-70 persen berasal dari Sulawesi. Benar atau tidak, memang harus dibuktikan melalui penelitian.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara Kalimantan dan Sulawesi sudah dimulai sejak abad ke-5 atau abad ke-6. Sejarah menyebutkan bahwa beberapa benda purbakala yang ditemukan di muara sungai Lariang di Mamuju, Sulawesi Barat, diduga kuat berasal dari interaksi antara masyarakat kerajaan-kerajaan di Mandar dengan Kerajaan Kutai. Juga disebutkan bahwa ada hubungan keluarga antara raja-raja Kutai dan raja-raja Wajo, bahwa La Maddukelleng dari Wajo sempat menjadi Sultan di Paser, bahwa Balikpapan dan Samarinda adalah tempat menjual tallo’ bau (telur ikan tuing-tuing) pelaut Mandar yang melaut dengan sandeq dan berbagai jenis perahu lainnya sejak awal abad ke-20, dan lain-lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Warga kota Balikpapan sendiri, umumnya adalah pendatang. Masyarakat kota ini sangat heterogen. Jangankan anggota masyarakat yang datang dari berbagai daerah dan suku di Indonesia dari Medan sampai Jayapura, bahkan para expatriate yang bermukim di kota ini juga datang dari berbagai negara di dunia, dari Yordan sampai Kanada. Namun, justru kondisi inilah yang mengajarkan warga Balikpapan untuk saling menghormati dan bekerjasama dalam kemajemukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Mandar adalah salah satu etnis di Balikpapan yang berasal dari Sulawesi. Saat ini, masyarakat Mandar di Balikpapan bernaung pada Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Kalimantan Timur yang merupakan salah satu kerukunan masyarakat dari 79 paguyuban yang terdaftar di pemerintah kota sampai tahun 2007. Dulu, masyarakat Mandar di seluruh Indonesia bergabung dengan masyarakat Bugis, Makassar dan Toraja dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), tetapi sejak terbentuknya provinsi Sulawesi Barat tahun 2004, masyarakat Mandar kemudian membentuk paguyuban sendiri. Di Kalimantan Timur, khususnya di kota Balikpapan, KKMSB terbentuk pada tahun 2005. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya, bahkan sewaktu masih bernaung di KKSS, masyarakat Mandar selalu mengadakan halal bi halal setiap selesai hari raya Idul Fitri. Sebenarnya, jauh sebelum terbentuknya KKMSB, masyarakat Mandar di Balikpapan sudah memiliki paguyuban sendiri yakni Kerukunan Keluarga Mandar (KKM); tetapi KKM tetap bernaung di bawah KKSS. KKM inilah yang mengatur pelaksanaan halal bi halal setiap tahunnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Halal bi halal masyarakat Mandar di Kalimantan Timur adalah acara yang selalu ditunggu-tunggu. Acara ini biasanya digilir dilakukan di Balikpapan dan Samarinda. Tahun 2006 lalu, acara halal bi halal diadakan di Samarinda, tahun ini di Balikpapan. Di acara inilah masyarakat Mandar melepaskan kerinduan pada kampung halaman, bertemu dengan sanak saudara yang mungkin berada jauh di daerah Kalimantan Timur lainnya. Bahkan tidak jarang banyak orang dari Mandar yang datang ke Kalimantan untuk menghadiri acara ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Pada 11 Nopember lalu, KKMSB Kalimantan Timur mengadakan halal bi halal di gedung Balikpapan Sport Center (BSC) di daerah Ring Road Balikpapan. Mestinya Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh akan hadir, tapi batal karena mengikuti kursus Lemhanas di Jakarta pada waktu yang sama. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Acaranya cukup meriah. Ruang DOM, nama lain dari BSC, sampai penuh dari ruang utama sampai tribun di lantai 2 dan lantai 3, bahkan masih ada pengunjung yang harus menunggu di luar gedung. Tokoh-tokoh masyarakat Mandar dari seluruh wilayah Kalimantan juga datang, khususnya to kaiyyang (orang besar) yang dianggap sukses merantau di Kalimantan baik yang memilih pekerjaan sebagai usahawan maupun yang terlibat di pemerintahan. Ruangan DOM yang luas itu sesekali meledak-ledak oleh tepuk tangan pengunjung ketika Masjaya Sagena, ketua KKMSB Kalimantan Timur yang juga dosen senior di Universitas Mulawarman memberi sambutan. Demikian juga ketika Walikota Balikpapan, Imdad Hamid, menyampaikan kekagumannya bahwa salah seorang penggagas konsep Balikpapan madinatul iman adalah salah seorang putra Mandar, almarhum Rifai Latief. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Yang cukup menantang sebenarnya bagi KKMSB adalah ketika Pak Walikota mengharapkan suatu saat ada muhibah perahu sandeq dari Mamuju ke Balikpapan. Tentu, ini juga menjadi tantangan bagi penyelenggara Sandeq Race yang sudah beberapa tahun dilaksanakan dengan rute dari Mandar ke Makassar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kalah seru adalah kehadiran Nurdin KDI. Nurdin adalah salah satu putra Mandar yang dianggap sukses di dunia tarik suara (walaupun kemenangannya di ajang KDI ditentukan oleh jumlah SMS saja). Panitia sengaja mendatangkan Nurdin, dengan biaya belasan juta, demi menghibur masyarakat Mandar. Pada saat penampilan Nurdin yang hanya membawakan dua buah lagu saja, satu lagu dangdut dan satu lagu Mandar, bagian depan panggung sampai penuh sehingga menutupi pandangan hadirin yang duduk di kursi di ruang utama. Seorang gadis kecil, murid kelas empat SD dari Kampung Baru, sampai memenuhi kamera ponselnya dengan gambar-gambar Nurdin. Gadis kecil ini mengaku, pada saat Nurdin masih di kompetisi KDI dulu, dia dan ibunya selalu mengirim SMS untuk Nurdin. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Nasehat halal bi halal disampaikan oleh KH. Syarifuddin, salah seorang cucu Imam Lapeo, seorang ulama yang terkenal dari Mandar. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154489684142830498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R4htDt2_s6I/AAAAAAAAAFc/9ikg_HoRbtk/s320/20november2007d.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Warga Mandar memenuhi gedung pertemuan. Foto: Mustamin al-Mandary.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, adalah menu makanan yang tersedia, seperti &lt;em&gt;jepa&lt;/em&gt; (singkong parut yang dibuat seperti martabak), &lt;em&gt;loka anjoroi&lt;/em&gt; (pisang muda rebus yang diaduk dengan santan), bau peapi (ikan masak khusus menggunakan minyak Mandar), &lt;em&gt;bau tapa&lt;/em&gt; (ikan yang diasapi), &lt;em&gt;sokkol&lt;/em&gt; &lt;em&gt;lameayu&lt;/em&gt; (“nasi” dari ubi parut yang dicampur dengan kacang ijo), &lt;em&gt;lawar puso&lt;/em&gt; (masakan khas jantung pisang), serta makanan-makanan lain yang sudah lazim seperti buras, ketupat, dan kue-kue lainnya. Sayangnya, karena banyaknya pengunjung, mungkin hanya sebagian yang bisa mencicipi makanan tradisional ini. Saking lakunya, bahkan sebelum acara makan siang, loka anjoroi sudah beredar di antara pengunjung. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada juga &lt;em&gt;parrabana&lt;/em&gt; (tukang rebana) yang khusus didatangkan dari Muara Badak. Di samping itu, ada pagelaran tarian tradisional yang dipersembahkan oleh gadis-gadis yang menggunakan pakaian Mandar. Tidak lupa, &lt;em&gt;passayang-sayang&lt;/em&gt; (semacam berbalas pantun dalam bahasa Mandar yang dilagukan dan diiringi petikan gitar) yang menghadirkan sepasang passayang-sayang yang kaset dan VCD-nya beredar di Sulsel dan Sulbar. Kemudian ada pula acara &lt;em&gt;mappamacco’&lt;/em&gt;. Lima orang perempuan yang berdandan elok, duduk berbaris di atas panggung. Setelah itu seorang penyanyi yang diiringi petikan gitar akan mattede (memuji) perempuan-perempuan itu satu per satu. (Aslinya, penyanyi di acara ini diiringi petikan kecapi, itulah karenanya di beberapa tempat di Mandar acara ini disebut pakkacaping). Diharapkan, setelah mendengar tede itu, ada orang yang bersedia mappamacco’ (memberikan uangnya di nampan yang diletakkan di depan masing-masing perempuan) untuk yang disukainya. Ini sejenis saweran. Pada kesempatan ini, walikota Balikpapan dan istrinya sempat juga &lt;em&gt;mappamacco’&lt;/em&gt; yang mengundang tepuk tangan para pengunjung. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154490362747663282" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R4htrN2_s7I/AAAAAAAAAFk/KfSzNesBMbQ/s320/20november2007c.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Acara &lt;em&gt;Mappamacco'&lt;/em&gt;. Foto Mustamin al-Mandary&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Di luar gedung, di area parkir, juga dipertontonkan &lt;em&gt;sayyang pattu’du’&lt;/em&gt; (kuda menari) lengkap dengan dua gadis manis yang menjadi penunggangnya. Seperti layaknya di Mandar, sesekali penonton berteriak menimpali &lt;em&gt;kalinda’da’&lt;/em&gt; yang dipersembahkan di depan &lt;em&gt;sayyang pattu’du’&lt;/em&gt; dan penunggangnya. Selain itu, terlihat sebuah bendi sikopang, kendaraan tradisional yang banyak dijumpai di Mandar, berkeliling di area parkir DOM. Dengan membayar kepada kusirnya, pengunjung yang umumnya anak-anak, bisa menyewa bendi tersebut. Menurut informasi, sayyang pattu’du’ dan kuda bendi yang berharga belasan juta rupiah sengaja didatangkan ke Balikpapan oleh seorang tokaiyyang dua hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, halal bi halal seperti ini bisa digunakan untuk “kampanye budaya” sebagai bagian dari pengenalan dan pelestarian budaya Mandar, khususnya bagi orang-orang yang jarang atau sudah tidak pernah ke Mandar. Sayangnya, tidak ada ceramah budaya di acara kali ini. Menurut keterangan panitia, mereka mengundang Muis Mandra, salah seorang budayawan Mandar dari Sendana, Majene. Tetapi, beliau tidak bisa datang karena waktunya bertepatan dengan acara memperingati haul Husni Djamaluddin di Tinambung. Untungnya, Muhammad Ridwan Alimuddin, seorang penulis muda yang banyak memperkenalkan budaya bahari khususnya dari wilayah Mandar, diundang untuk memutar film pendek tentang kebudayaan Mandar. Di film berdurasi sekitar 40 menit itu diperlihatkan beberapa budaya Mandar, mulai dari sandeq, penenun sutra Mandar, passau’ uwai, cara peminangan, dan lain-lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-4325694971183299064?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/4325694971183299064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=4325694971183299064' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/4325694971183299064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/4325694971183299064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2008/01/halal-bi-halal-masyarakat-mandar.html' title='Halal bi Halal Masyarakat Mandar Balikpapan 2007'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R4htDt2_s6I/AAAAAAAAAFc/9ikg_HoRbtk/s72-c/20november2007d.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-8721741197189702630</id><published>2007-09-21T14:44:00.000+09:00</published><updated>2007-09-21T14:55:32.533+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>"Sibaliparriq", Peran Ganda Perempuan Mandar</title><content type='html'>&lt;div&gt;Oleh Muhammad Ridwan Alimuddin&lt;br /&gt;Dimuat di &lt;a href="http://www.panyingkul.com/"&gt;http://www.panyingkul.com/&lt;/a&gt; tanggal 22 April 2007&lt;br /&gt;************************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi di Teluk Majene puluhan perempuan menanti para pajala (nelayan yang menggunakan jaring payang) datang dari laut membawa ikan, tiap siang beberapa perempuan berjibaku sekop menggali pasir di Sungai Mandar, tiap dini hari jalan utama di Kelurahan Tinambung dilintasi perempuan-perempuan yang memanggul puluhan jerigen menuju sumber air minum. Jika ada yang bertanya, mereka sedang melakukan apa, salah satu jawabnya, mereka mempraktekkan konsep sibaliparriq. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5112531630956332882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_UXp5hjQLLa8/RvNcblYZx1I/AAAAAAAAAAw/tEsw9ZOTsK4/s320/Passauq+Uwai.bmp" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Passauq Wai (penyedia air bersih)salah satu konsep sibaliparriq.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, konsep &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt; adalah “membagi kesusahan” antara suami istri, demikian pula sebaliknya. Tapi tidak salah bila memasukkan anggota keluarga lain, misalnya anak. Namun dalam banyak pembicaraan, baik diskusi ilmiah maupun pendapat umum, sibaliparriq identik akan apa yang dilakukan kaum perempuan. Wajar, sebab perempuan “pada dasarnya” mengurusi hal domestik saja. Jika dia melakukan peran ekonomi, maka itu adalah “tambahan”, dia membantu suaminya. Banyak yang memaknai, kegiatan “tambahan” itu adalah sibaliparriq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sibaliparriq&lt;/em&gt; terdiri dari tiga suku kata, yaitu si (berhadapan), bali (lawan, musuh; bila mendapat awalan me- berarti membantu), dan parriq (susah). Jadi, secara sederhana sibaliparriq berarti saling membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun terakhir ini, 2005 dan 2006, terbit dua buku bertema sama: “&lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt;”. Buku pertama ditulis oleh Muhammad Idham Khalid Bodi, berjudul “Sibaliparri: Gender Masyarakat Mandar” (Graha Media Celebes, Jakarta, 210 hal.). Buku kedua dikerjakan oleh tim yang terdiri dari Jubariah, Muhammad Syariat Tadjuddin, Mansur, dan Abd. Rahman Yakin dengan judul “&lt;em&gt;Siwaliparri&lt;/em&gt; dalam Perspektif Pemberdayaan Perempuan” (Beranda Cendekia Konsultan, Mammesa Art Community, Balaniva Publishing, Yogyakarta, 132 hal.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan pustaka tentang Mandar dan gender, kedua buku tersebut penting untuk dimiliki. Namun sayangnya, menurut saya, kedua buku ini gagal untuk hadir sebagai bacaan menarik. Idealnya, sebuah buku yang bagus akan dibaca hingga tuntas, memberikan mencerahkan dan berarti untuk dijadikan koleksi.. Tidak sebatas: beli - baca sekilas - simpan di rak - jika butuh informasi, buka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena buku yang mengangkat isu-isu penting tapi tidak berhasil muncul sebagai bacaan yang menarik, merupakan lagu lama di Indonesia. Anehnya, buku-buku berciri demikian lahir dari dunia perguruan tinggi. “Mengganti” sampul skripsi, tesis, atau disertasi dengan sampul yang menarik mata, jamak kita lihat di toko-toko buku. Padahal, membukukan sebuah hasil penelitian, apalagi dengan harapan dapat menarik minat masyarakat luas, tentu butuh upaya ekstra dalam menyesuaikan cara penyampaiannya. Sekali lagi, isinya penting, tapi tak berhasil menarik minat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke masalah &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt;, beberapa budayawan Mandar terlalu mengagungkan konsep ini. Dalam arti, ada anggapan seolah-olah konsep itu hanya ada di Mandar. Sebenarnya tidak! Hampir semua suku bangsa atau komunitas mempraktekkan konsep kerjasama antar anggota rumah tangga, mungkin istilahnya saja yang beda. Malah ada yang lebih “radikal”, misalnya etnis Ama di Jepang. Yang menjadi nelayan adalah kaum perempuan. Ya, perempuan menjadi penyelam abalon. Adapun kaum lelaki tinggal di rumah atau hanya membantu mendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pembaca yang akrab dengan karya ilmiah yang dituliskan dengan populer dan memikat, sudah pasti kecewa membaca isi buku pertama, yang gaya penulisannya sangan akademis dan kaku. Dengan penyusunan bab yang meniru skripsi: Pendahuluan – Kajian Pustaka – Metode Penelitian – Bab Pembahasan – Penutup, memang tidak ada kenikmatan pembelajaran yang bisa didapatkan. Sementara buku kedua, hadir dengan mencontoh kompilasi makalah ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, dengan mengacu pada pentingnya memerhatikan kualitas sebuah buku, saya memasukkan buku kedua ini ke dalam kategori “tak perlu terbit”. Alasannya, karena isinya hampir sama dengan buku pertama (buku pertama menjadi bahan pustaka di buku kedua) ditambah beberapa panduan dalam gerakan pemberdayaan gender. Kedua buku ini diberi kata pengantar oleh orang yang sama, yaitu Prof. Dr. H. Darmawan Mas’ud Rahman, M.Sc. Menurut saya, Sulawesi Barat atau Mandar tak kekurangan budayawan dan ilmuwan yang paham tentang &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt;. Tapi bila niatnya mencari tokoh dengan gelar akademik berjejer sebagai upaya penasbihan, Professor Darmawan sang cendekiawan dan budayawan Mandar itu adalah orang yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana cara yang ideal memaparkan &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt; dalam sebuah buku? Saya membayangkan sebuah buku yang isinya bercerita secara dalam mengenai pelakon &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt; dari beragam macam latar belakang. Bukan hanya para perempuan yang pekerjaannya telah saya paparkan di bagian awal tulisan ini, tapi juga para perempuan yang bekerja di sektor lain. Misalnya, apakah ibu-ibu PKK juga ber-sibaliparriq, atau bagaimana kaitan sibaliparriq dengan fenomena jarangnya ilmuwan dan budayawan perempuan di ranah diskusi kebudayaan Mandar, juga tentang kaum perempuan yang berkesenian, semisal Mak Cammana yang kesohor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya menarik untuk melihat beragamnya model sibaliparriq dalam kehidupan keseharian. Misalnya tentang lelaki yang menjaga warung sedang sang isterinya adalah pegawai negeri, dan tentang anak-anak dalam keluarga yang ikut dalam aktivitas ekonomi (dalam kerangka sibaliparriq) yang memilih tak bersekolah, karena dirinya keenakan mendapatkan upah dari pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila yang dihadirkan kepada pembaca adalah 101 kasus dari 102 latar belakang, maka buku yang mengupas &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt; ini tak perlu mengumbar teori-teori, menurut ini … menurut itu …. Sebagai pencinta buku, saya selalu berharap buku yang saya baca bisa mendatangkan kenikmatan selain menambah pengetahuan. Singkatnya, saya selalu mendambakan buku yang menyajikan proses pembelajaran yang menyenangkan, dan saya rasa ini adalah harapan yang jamak dimiliki para pencinta buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah para penulis buku mengenai &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt; ini menemukan kesulitan untuk menuliskannya dengan memikat? Saya yakin, para penulis buku ini memiliki pengalaman yang erat berkaitan sibaliparriq di Tanah Mandar. Seharusnya pergulatan sosial dan kultur yang terakumulasi dari pengalaman demi pengalaman, disertai dengan pengamatan lapangan secara mendalam, yang dituliskan dengan menampilkan sisi kemanusiaan para pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan seharusnya diberikan pada upaya memunculkan “suara” perempuan dan lelaki yang menjalankan &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt;. Bukan sebaliknya, mengurung keleluasaan penceritaan dalam kaidah ilmiah dan teori-teori, serta menempatkan pelaku sebagai obyek penelitian semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan sosial dan kultural dalam konsep sibaliparriq sebenarnya disinggung Darmawan Mas’ud dalam kata pengantarnya untuk buku kedua, dan bagi saya, seharusnya inilah yang menjadi acuan dalam penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt; yang saya bayangkan adalah buku yang memaparkan kehidupan empiris beragam pelaku konsep &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt;, karena misi yang mendesak diemban sebuah buku hasil penelitian dan kumpulan pemikiran adalah bagaimana isu yang dibahas bisa menarik hati pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai sibaliparriq. Bila para penulis terjebak pada pemaparan teori-teori, pendapat ini-itu, masyarakat umum rasanya tak punya waktu untuk memahami itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, buku hebat tak perlu ditandai oleh puluhan judul buku di daftar pustaka, untuk menunjukkan keluasan bacaan penulisnya. Bila disuruh memilih, sebagai orang yang selalu haus mengetahui budaya kampung sendiri, saya akan memilih sebuah buku yang memaparkan pengalaman orang-orang yang melakukan konsep &lt;em&gt;sibaliparriq&lt;/em&gt;, serta dialektika sosial, ekonomi dan kultural yang terbangun sebagai konsekuensi logisnya, dalam kehidupan masyarakat Mandar hari ini. Sayangnya, keinginan sederhana saya ini, tidak terjawab setelah membaca kedua buku tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-8721741197189702630?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/8721741197189702630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=8721741197189702630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/8721741197189702630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/8721741197189702630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/sibaliparriq-peran-ganda-perempuan.html' title='&quot;Sibaliparriq&quot;, Peran Ganda Perempuan Mandar'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UXp5hjQLLa8/RvNcblYZx1I/AAAAAAAAAAw/tEsw9ZOTsK4/s72-c/Passauq+Uwai.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-5545399101001481404</id><published>2007-09-20T21:27:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T21:29:06.425+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>"Sandeq" Mandar Untuk Nelayan Aceh</title><content type='html'>Dimuat di harian Kompas, Jumat, 20 Mei 2005&lt;br /&gt;******************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAJAH sumringah ditampakkan para nelayan penghuni barak pengungsian di Desa Alue Naga, Kecamatan Baiturrahman, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam. Beberapa hari terakhir, mereka tak ubahnya bocah-bocah kecil yang dapat mainan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di muara Sungai Neuheun, para nelayan bergantian menjajal perahu bercadik yang baru kali ini mereka kenal. Perahu itu hasil rakitan mahasiswa perkapalan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dengan nelayan setempat. Di sekitar barak pengungsian, berderet 20 perahu contoh yang sudah selesai dirakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya, perahu sandeq, model perahu nelayan tradisional Mandar (Sulawesi Barat) yang lambungnya menyerupai kano, tetapi kiri kanannya diapit cadik. Pengapit lambung-menyerupai sayap-dari bahan bambu tersebut, selain mempercantik penampilan perahu, juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan. Diterjang gelombang dahsyat pun perahu tetap mengapung tanpa oleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI nelayan Aceh, perahu tersebut adalah peralatan baru untuk membantu mengais rezeki di laut. Maklum, perahu asli Tanah Rencong bermodel burung merak yang turun-temurun mereka gunakan, empat bulan lalu sudah tak bersisa dihantam tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan tak punya apa-apa lagi selain baju di badan dan anggota keluarga yang tersisa, tentulah tak mudah bagi mereka untuk memiliki kembali perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, ITS menawarkan mereka sebuah perahu yang memadukan nilai kearifan lokal masyarakat pantai dengan teknologi ramah lingkungan. "Bahannya mudah didapat dan nelayan pun mudah merakitnya," ujar Kepala Pusat Studi Kelautan ITS Daniel Mohammad Rosyid PhD, Kamis (19/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prototipe perahu itu berukuran panjang 4,7 meter, lebar 75 cm, dan berkapasitas angkut 300 kg ikan di luar 2-3 orang nelayan. Bahan dasarnya plywood marine, tripleks yang tak mudah lapuk karena basah atau panas. Setelah dirakit, seluruh badan kapal diplitur tahan air, diamplas, lalu dicat. Cadik dari bambu yang mengapit lambung panjangnya 4 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentangan layar segi tiga di atas perahu menjadi bagian dari motor penggerak. Sore hari, ketika angin bertiup kencang dari darat ke laut, perahu melaju ke laut lepas. Di sanalah nelayan sepuasnya menjala ikan. Pagi hari, giliran tiupan angin berbalik arah dari laut ke darat, nelayan pun pulang ke pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya produksi satu perahu sekitar Rp 3,5-4 juta. Jika nelayan sudah makin berdaya dan tak ingin bergantung pada layar, mereka bisa melengkapi perahunya dengan mesin berkekuatan 5-7 tenaga kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM memberdayakan nelayan, ITS tak sendirian. PT Terminal Petikemas Surabaya digandeng sebagai donatur. Adapun Direktorat Pendidikan Masyarakat Depdiknas bertindak sebagai fasilitator dalam membangun pranata pemberdayaan nelayan dan pengungsi lainnya.&lt;br /&gt;Pekan lalu, di Alue Naga, Direktur Pendidikan Masyarakat Depdiknas Ekodjatmiko Sukarso bersama tokoh masyarakat setempat meresmikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri, pranata pendidikan nonformal yang berbasis nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascatsunami, di wilayah Aceh telah berdiri beberapa PKBM, di antaranya PKBM Lamlagang, Ar-Rahmah Seunebok, Serambi Mekah Pulo Aceh, dan Pengayoman Tunas Bangsa. Semuanya mengembangkan keaksaraan dan kecakapan hidup spesifik sesuai situasi masyarakat, seperti komputer, jahit-menjahit, otomotif, dan tata rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKBM Pengayoman Tunas Bangsa yang berbasis di Lembaga Pemasyarakatan Lhok Seumawe misalnya membina 25 eks aktivis Gerakan Aceh Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan LSM dan perwakilan Pemerintah Perancis bidang pendidikan di Aceh diharapkan mempererat sinergi antarpranata pemberdayaan masyarakat di Aceh. Anne-Marie Ricaldi Coquelin PhD, perwakilan Pemerintah Perancis bidang pendidikan di Indonesia, berucap, "Dengan sinergi dan tanpa prasangka, badai pasti berlalu...." (NAR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-5545399101001481404?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/5545399101001481404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=5545399101001481404' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/5545399101001481404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/5545399101001481404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/sandeq-mandar-untuk-nelayan-aceh.html' title='&quot;Sandeq&quot; Mandar Untuk Nelayan Aceh'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-7313277716412716574</id><published>2007-09-20T21:24:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T21:26:25.787+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Dihantam Ombak, Perahu Sandeq Kembali ke Jayapura</title><content type='html'>Dimuat di Kompas, Jumat, 26 Agustus 2005&lt;br /&gt;***************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspedisi keliling dunia menggunakan perahu sandeq, perahu tradisional suku Mandar, Sulawesi Barat, gagal. Perahu yang membawa enam awak dengan misi menggalang simpati dunia bagi korban bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam itu kembali ke Jayapura akibat dihantam ombak besar dan angin kencang di Lautan Pasifik. Tim akan mempertimbangkan lagi rute pelayaran guna melanjutkan ekspedisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator tim ekspedisi Yoshiyuki Yamamoto kepada pers di Jayapura, Kamis (25/8), mengatakan, pelayaran itu banyak mendapat rintangan sehingga tim ekspedisi memutuskan kembali ke Jayapura. Perahu tradisional tersebut bertolak dari Makassar tanggal 20 Mei 2005 dan tiba di Jayapura 27 Juni 2005. Namun, perahu kemudian mengalami gangguan teknis di bagian buritan karena dihantam ombak sehingga diputuskan untuk diperbaiki di Jayapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir sebulan tim memperbaiki perahu di Jayapura, pada 1 Agustus 2005 perjalanan dilanjutkan menuju Papua Niugini (PNG), kemudian Kepulauan Salomon. Namun, saat memasuki pintu masuk Salomon, terjadi angin kencang, arus deras, dan ombak besar sehingga sandeq yang panjangnya 17,3 meter dan lebar terluas 1,7 meter itu tak sanggup menantang arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali kami maju satu meter, kami mundur sampai ratusan meter. Kami coba maju sampai lima kali, tetapi tetap tidak sanggup. Akhirnya kami putuskan untuk kembali. Kalau kembali ke PNG tidak ada masalah karena perahu mengikuti arus angin sehingga butuh 10 hari dan tanggal 21 Agustus kami tiba di Jayapura, kata Yamamoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, perairan yang diperhitungkan memiliki kondisi ombak dan gelombang paling sulit dilalui adalah di Peru dan Tahiti. Namun, saat memasuki Kepulauan Salomon, sandeq tak berdaya menghadapi ganasnya ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari enam awak itu, dua awak adalah warga negara asing, yakni Jepang dan Taiwan, sedangkan yang lainnya adalah ahli sandeq dari Majene, Sulawesi Barat. Nakhoda perahu adalah Pamuin, orang Mandar, sementara Yamamoto bertugas membaca peta perjalanan sekaligus sebagai koordinator tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan rute semula, perahu bertolak dari Majene-Makassar-Papua-PNG-Kepulauan Salomon-Kepulauan Tahiti-Easter Island-Peru-Pantai Amerika Selatan-Meksiko-Los Angeles- Hawaii-Kepulauan Fiji-Bali. Perjalanan ini butuh waktu tiga bulan sampai satu tahun. Jika tidak ada halangan, akhir Agustus atau awal September 2005 tim ekspedisi ini kembali ke Indonesia.Misi awal ekspedisi dunia ini, menurut Yamamoto, menggalang simpati dunia untuk membantu korban bencana tsunami di NAD. Selain itu, menunjukkan kepada dunia bahwa NAD dan dunia yang diguncang gempa tetap bangkit dan bersatu. Misi lain, pelestarian lingkungan hidup dan mempererat kerja sama di antara bangsa Asia dalam mempertahankan budaya kelautan. (KOR)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-7313277716412716574?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/7313277716412716574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=7313277716412716574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/7313277716412716574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/7313277716412716574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/dihantam-ombak-perahu-sandeq-kembali-ke.html' title='Dihantam Ombak, Perahu Sandeq Kembali ke Jayapura'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-8462617028968732661</id><published>2007-09-20T20:51:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T21:03:27.686+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>“Sandeq” yang bukan Sandeq</title><content type='html'>Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin &amp;amp; Horst H. Liebner, Peneliti Kebaharian Mandar&lt;br /&gt;Dimuat di Fajar Makassar, 23 May 2005&lt;br /&gt;************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak akhir Maret 2005, di Desa Pambusuang, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah Baharuddin Lopa yang habis terbakar, dikerjakan sebuah perahu yang agak aneh bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu itulah yang akan menjadi aktor utama pada pelayaran Spirit of Asian Voyagers Expedition (‘Ekspedisi Semangat para Pelaut Asia’), suatu ekspedisi yang katanya “Menuju Sejarah Baru Bangsa Asia!”, bertema “Save the Pacific!” dan “Sandeq for New Asian History”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perahu itu memang ‘dijual’ sebagai sandeq. Demikianlah sebutannya di beberapa media yang memberitakan pelaksanaan kegiatan itu (misalnya Kompas, 17 Desember 2004: Perahu Sandeq Akan Jelajahi Pasifik Sejauh 40.000 Km). Juga, semacam lembaran konferensi pers yang kami dapatkan menyebutnya sebagai sandeq. Bahkan, menurut lembaran itu, perahu tersebut berjenis ‘ultra sandeq’, dijuluki demikian karena dimensinya jauh lebih besar daripada sandeq pada umumnya: panjang 16 meter, lebar 1,2 meter, dan tingginya –tak tanggung-tanggung– hampir dua meter. Ya, katanya, di Mandar pun pernah dibuat sandeq yang ukurannya hampir sama – akan tetapi, habis bertanya ke mana-mana, kami hanya dengar kabar tentang dua perahu sandeq yang ukurannya (hampir) mendekati sang ‘ultra sandeq’ ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami bertanya kepada nelayan dan tukang perahu setempat mengenai jenis perahu itu, mereka pun agak bingung menjawab. Sambil bercanda, ada yang menyebutkannya sebagai “sandeq raksasa”, dan akhirnya masyarakat setempat menyebutnya sandeq bagang karena perahu tersebut agak mirip dengan alat penangkapan ikan yang bisa berpindah-pindah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jenis Perahu Sandeq&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandeq adalah perahu bercadik khas Mandar. Sandeq digunakan untuk menangkap ikan dan berdagang, warnanya putih, bertiang layar tunggal, layarnya bersegi-tiga, dan mempunyai dua baratang (cadik) serta dua palatto (katir). Penggolongan sandeq paling tidak berdasarkan tiga karakteristik: dari segi konstruksi, peruntukkannya, dan ukuran: Sandeq yang baratang-nya dipasang di bawah geladak disebut sandeq tolor; bila cadik itu dipasang di atas dek, maka disebut sandeq bandecceng; dan perahu ‘campuran’ di antara dua jenis tadi (artinya, baratang haluan di atas, belakang buritan di pasang di bawah geladaknya) diistilahkan sandeq bencong atau calabai (waria). Ada pun atas dasar penggunaannya, sebagai misal adalah sandeq parroppong (digunakan menangkap ikan di rumpon) dan sandeq potangnga (yang digunakan untuk menangkap ikan terbang dan telurnya). Dan yang berdasarkan ukuran: umpamanya, sandeq kayyang (besar, diawaki 3-6 orang) dan sandeq keccu (kecil, diawaki 1-2 orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada beberapa jenis sandeq, namun ciri utamanya tetap sama. Na, kalau sebuah perahu bukanlah sandeq, maka ada sebutan lain, yang dapat menandai tipe-tipe perahu yang sangat jelas dan nyata ciri-cirinya. Misalnya, jenis perahu bercadik yang digunakan nelayan Mandar sebelum kemunculan sandeq, pada tahun 1930-an, dinamakan olan mesa (jenis perahu itu terdapat di lambang Kabupaten Majene) dan pakur. Memang, perahu pakur agak mirip dengan sandeq - akan tetapi, ketika mau ditelisik lebih jauh, akan tampak sekian banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang menyebabkan bahwa istilah “pakur” digantikan dengan sebutan “sandeq”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu pakur menggunakan layar segi-empat (layar tanjaq), bertiang layar tunggal tetapi ukurannya lebih pendek dan kaku sebab disesuaikan dengan jenis layarnya, posisi cadik depan tidak tepat di dekat ujung haluan perahu tetapi agak ke tengah, dan baratang buritannya lebih jauh ke belakang, dekat sanggar kemudinya; bagi para nelayan Mandar perbedaan-perbedaan ini sangat jelas. Adapun kesamaan antara sandeq dan pakur: ujung haluan dan buritan berbentuk limas segi-tiga (ini adalah ciri khas pakur dan sandeq); sanggar kemudi ‘berlapis’ dua, yakni sanggilang moane (laki-laki, bagian atas) dan sanggilang baine (perempuan, bawah); satu tiang layar, dua baratang, dan dua palatto. Bagaimanapun, sebagai angkutan di laut baik pakur maupun sandeq sudah hampir punah: sejak para nelayan Indonesia melengkapi perahu-perahunya dengan mesin, perahu-perahu tak laku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan perahu yang akan digunakan untuk ekspedisi itu? Bagi seorang pelaut Mandar, perahu itu jelaslah bukan sandeq. Perahu itu berukuran amat besar, memakai dua tiang dengan tiga lembar layar yang digolongkan sebagai jenis layar nade, ditambah empat baratang dan empat palatto. Jadi, bisa dikatakan, perahu itu bukan sandeq, ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada hal-hal ini, perahu itu menggunakan mesin yang dipasang di dalam lambung perahu, sehingga lambung buritan diubah secara radikal, dan layout geladak, interiornya dan ukiran lambung disesuaikan dengan keinginan sang pemesan. Berhadapan dengan semua modifikasi ini, salah seorang tukang perahu yang mengerjakan perahu tersebut mengatakan secara pasrah, “saya hanya ikut perintah pemesan”. Dengan istilah lain, bila perahu itu mau disebutkan sandeq, ia semacam “sandeq keturunan indo”, tidak lagi ‘berdarah asli Mandar’ meskipun dikerjakan oleh tukang perahu Mandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apapun jenis perahunya, sebagai pencinta kebudayaan dan tradisi bahari, kami mengharapkan pelayaran tersebut berjalan dengan sukses, sebagaimana yang diharapkan oleh para penggagasnya. Akan tetapi, selain soal sebutan alat pelayarannya, ada masalah yang jauh lebih krusial, yaitu salah satu dasar teknis perkapalan: yang namanya perahu layar selalu harus memperhatikan perhitungan stabilitas. Pada sebuah perahu sandeq ‘biasa’, soal itu dipecahkan melalui beberapa rumus perbandingan antara daya apung katir, lebarnya cadik dan besarnya layar serta bentuk lambung. Artinya, bambu katir, palatto, harus memiliki ukuran dan berat tertentu supaya dapat menyeimbangi sebuah perahu yang berukuran tertentu; dan karena palatto itu sangat penting untuk menciptakan stabilitas dalam berlayar itu, maka bambu yang dipakai dikerjakan dengan amat seksama dan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya bagi perahu ‘ultra-sandeq’ itu? Jelas, palatto-nya harus ‘ultra’ juga, artinya, daya apung yang ditimbulkan oleh bambu penyeimbang itu harus sesuai dengan daya-daya yang disebabkan oleh angin dan ombak yang ingin membalikkan perahu. Akan tetapi, bambu yang ukurannya sesuai dengan sebuah perahu yang sebesar perahu ekspedisi itu tak pernah ada, sederhananya, secara alami, bambu bagaimanapun tak pernah tumbuh dalam ukuran yang diperlukan itu. Konon ceritanya, kedua perahu sandeq raksasa buatan Mandar yang disebtukan sebelumnya memakai ‘katir dobel’, artinya, dua batang bambu dipasang sejajar pada masing-masing sisi perahu agar daya apung palatto dapat menahan keseimbangan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perahu ekspedisi Borobudur ke Afrika 2003-2004 hal itu diantisipasi dengan menggunakan lambung perahu lebar yang dengan ini memiliki stabilitas yang inheren. Para ahli perkapalan yang dilibatkan dalam pelayaran Borobudur itu dari awal sadar, bahwa mereka takkan mendapatkan bambu katir yang dapat menyeimbangi perahu. Sebaliknya, mereka menyimpulkan, bahwa tujuan utama penggunaan katir dan cadik pada perahu-perahu abad ke-9 bukan guna menjaga stabilitasnya, tetapi lebih-lebih sebagai tempat yang sangat cocok untuk mendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa solusinya bagi para petualang Asian Spirit itu? Karena memang tiada bambu yang panjangnya sesuai dengan yang mereka perlukan, diputuskan memasang dua pasang katir dan cadik. Hal itu tak dapat memecahkan masalah volume palatto, kriterium pertama yang menentukan daya apungnya. Malahan lagi, karena ternyata mereka tidak mendapatkan palatto yang siap pakai, maka diputuskan memesan bambu baru dari hutan – dengan melupakan, bahwa bambu yang basah adalah sekitar tiga sampai empat kali lebih berat daripada bambu kering, sehingga daya apungnya hanya sepertiga atau seperempat dari bambu kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan para pelaut Mandar selalu menggunakan bambu yang dikeringkan melalui sebuah proses rumit yang memerlukan empat sampai enam bulan. Dan, sebenarnya, hal itu berlaku juga untuk kayu yang mau dijadikan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami terangkan cara pembuatan palatto dan mengingatkan mereka akan bahaya yang akan mereka hadapi bila menggunakan katir dan papan lambung yang tidak kering, penterjemahnya tidak bersedia untuk menyampaikan peringatan-peringatan kami kepada sang pemimpin ekspedisi ini, Yamamoto-San. Malahan, jawaban yang diberikan oleh juru bahasa itu kepada kami cukup mengherankan: “Semua yang ikut sudah tahu konsekuensinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang bukan ahli perkapalan: cobalah kita simak sebuah analogi. Apakah Anda akan mengendarai sebuah mobil yang velgnya bengkok sampai ke Menado? Bila Anda tidak tahu bawah mobil memerlukan ban bundar? Ya, mungkin, tapi apakah Anda akan tiba dengan selamat? Atau: Kalau tahu bahwa ban Anda tidak bundar, dan mengerti bahwa bannya seharusnya bundar, apakah Anda akan menggunakannya? Dalam kasus ini: ekspedisi itu tidak hanya akan sampai ke Menado, tetapi menempuh suatu pelayaran lebih dari 30.000 mil laut - ke Menado hanya sekitar 1.500 km, artinya itu hanya sepersekian dari rute pelayaran yang maunya ditempuh dengan “ban tidak bundar” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, setelah kami memperlihatkan perbedaan beratnya bambu kering dan basah secara langsung kepada Yamamoto-San dengan menggunakan dua batang bambu yang demikian, diputuskan meminta bambu palatto dari para pemilik perahu sandeq lomba; kami pun ikut mengorbankan salah satu palatto milik kami. Akan tetapi – bambu-bambu katir itu sesuai dengan perahu berukuran sampai 12 meter saja; bila dipasang pada sebuah perahu yang 1/3 kali lebih panjang daripada perahu sandeq lomba terpanjang, maka, secara logis, tinggallah 2/3 dari daya apung awalnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya kami yang risau akan hal-hal ini. Salah seorang tukang perahu yang disegani di Mandar pun dengan otoritas pengetahuan yang dimilikinya mengkhawatirkan akan jumlah susunan papan lambung yang terlalu banyak dan yang posisinya tegak lurus terhadap tekanan air. Seharusnya, perahu yang terdiri dari beberapa susunan papan lambungnya dibuat melebar agar stabilitas yang terancam oleh ketinggian itu dapat diseimbangi. Cobalah saja Anda simak perbedaan antara sebuah buku yang ditegakkan di atas sisi punggungnya dengan sebuah buku yang dibaringkan di atas sisi sampulnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini perlu dijelaskan, bahwa sebuah perahu sandeq ‘biasa’ hanya terdiri dari belang (kayu gelondongan yang dikeruk bagian tengahnya) sebagai dasar perahu dan satu atau dua urat papan tambahan. Dan paling banter tingginya sekitar satu meter – sementara bentuk lambung perahu yang akan digunakan ekspedisi tersebut terdiri dari belang dan lima urat tambahan, sehingga lambungnya mencapai ukuran hampir dua meter. Tidak apa-apa jika lambungnya agak lebar – akan tetapi, yang terjadi adalah lebarnya tidak jauh berbeda dengan sandeq pada umumnya, yakni amat ramping. Sederhananya, lambung perahu sendiri sama sekali tak stabil, dan alat penambah stabilitas, yaitu palatto, tak sesuai ukurannya, sehingga rawan terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang nelayan Mandar yang meminta masukan ketika ada tawaran kepada dia sebagai salah seorang calon pelayar pada ekspedisi tersebut. Maksudnya, jika ekspedisi tersebut menggunakan judul pelayaran dengan sandeq, apa yang terjadi jika ekspedisi tersebut gagal, misalnya perahu rusak? Sandeq yang menjadi kambing hitam? Apakah nanti takkan ada komentar-komentar seperti “ternyata sebatas itu kemampuan sandeq”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ketika Yamamoto-San pertama kali menemui kami dan menanyai pendapat kami, secara langsung kami menyarankan agar ekspedisi itu sebaiknya menggunakan dua perahu sandeq ‘biasa’ saja – semua kesulitan-kesulitan tentang jadwal pembuatannya yang sagat mepet dan sekian banyak masalah teknis terpecahkan dengan otomatis, dan kami cukup yakin bahwa sebuah perahu sandeq yang dipersiapkan dengan baik dapat menempuh pelayaran itu. Bagaimanapun, yang terjadi saat ini adalah sandeq Mandar hanya menjadi semacam inspirasi bagi tim petualang itu – dan kelaiklautan sandeq dikorbankan atas nama inspirasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kekhawatiran sang pelaut Mandar tadi, apakah nanti takkan ada kesalahpahaman bagi orang yang tidak mengetahui bentuk sandeq yang sebenarnya? Maksudnya, ketika mereka melihat perahu tersebut baik lewat foto, film, atau secara langsung, maka mereka akan menganggap bahwa itulah ‘sang penari di atas ombak itu’ – padahal pelaut itu sendiri tahu, bahwa perahu ekspedisi ini bukanlah sebuah sandeq na malolo, ‘nan elok’, dan cara menarinya pun tak mungkin begitu lincah dan gemulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rute&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, rencana rute ekspedisi adalah “Majene - Makassar - Kep. Solomon - Kep. Tahiti - Kep. Easter - Peru - Meksiko - Los Angeles - Kep. Hawaii - Kep. Fiji - Bali/Jakarta - Bali/Jakarta - Taiwan – Jepang” demi “merekonstruksikan kembali [...] sejarah perjalanan laut bangsa-bangsa Asia”. Tak susah untuk menebak bahwa rute ini merupakan semacam napak tilas pelayaran orang-orang Austronesia menuju kawasan Polinesia – dan itulah keterangan pertama yang kami dapatkan mengenai tujuannya para petualang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal migrasi itu dikenali dengan baik oleh banyak ilmuwan, dan terutama di Polinesia sendiri sejak tahun 1970an diadakan sekian banyak event dan petualangan yang memperingati dan ‘merekonstruksi’ penyebaran manusia terbesar melalui laut ini. Akan tetapi, para ilmuwan tahu, bahwa migrasi itu tidak menuju ke satu arah saja, tetapi terdiri dari berbagai gerakan manusia ke segala arah angin. Perlu pula dicatat, bahwa migrasi itu tidak terjadi dalam satu kali pelayaran atau satu tahap saja, tetapi menghabiskan waktu ratusan tahun dengan ribuan pelayaran, sehingga semua pulau di Samudera Pasifik didapatkan dan jadi dihuni oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang ironis, jika kita bersandar pada kalimat “merekonstruksi kembali, sekaligus menciptakan sejarah baru perjalanan laut bangsa-bangsa Asia dengan menggunakan kekayaan ilmu-ilmu kelautan dan pelayaran terbaik yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia sendiri”, yaitu mengapa harus memodifikasi secara radikal konstruksi sandeq yang notabene merupakan “kekayaan ilmu-ilmu kelautan dan pelayaran terbaik” yang dimiliki tukang perahu Mandar? Apakah itu menyiratkan keraguan pada kemampuan sandeq mengarungi samudera luas? Mengapa tiang layarnya harus dua, baratang dan palatto-nya harus empat, dan mengapa pallayarang (tiang layar) dan palatto-nya harus dibungkus dengan fiber-glass - apakah ini kekayaan tradisi kebaharian Mandar? Cukup mengherankan pula mengapa dipakai layar segitiga jenis nade yang notabene berasal dari pengadopsian jenis layar barat sloop yang di Barat pun baru mulai digunakan pada abad ke-20 .... .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau ekspedisi ini memang ingin menjadi sebuah napak tilas atas sejarah orang Austronesia, maka perlu ditanyakan, mengapalah para penyelenggaranya tidak menggunakan penemuan-penemuan indigen masyarakat itu. Misalnya, kendaraan laut Austronesia yang terbukti terbaik di atas samudra luas, tipe-tipe perahu Mikronesia dan Polinesia, bukan perahu bercadik ganda, tetapi bercadik tunggal atau berbentuk katamaran – cobalah Anda simak gambar-gambar perahu pada misalnya buku standar tentang jenis-jenis perahu Austronesia oleh A.C. Haddon dan J. Hornell, Canoes of Oceania (Honolulu, 1936).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasannya adalah bahwa cadik ganda kemungkinan besar diciptakan setelah orang-orang yang sampai ke Polinesia meninggalkan kawasan Nusantara. Suatu alasan lain: kelihatannya, perahu bercadik ganda agak susah digunakan di samudra, karena cadiknya gampang patah kalau ‘dijepit’ antara ombak-ombak tinggi. Dari pelbagai penelitian sejarah dan etnografis diketahui bahwa jenis-jenis perahu yang dipakai di samudra lepas oleh para pelaut Austronesia paling unggul, orang Mikronesia, menggunakan katir tunggal yang dipasang sedemikian rupa agar katirnya selalu berada di sebelah atas angin. Oleh karena itu bukan daya apung katir, tetapi beratnya dan sudut jatuhnya menjadi penjamin stabilitas perahu, dan penghubung katir ke lambung, cadiknya, tak terancam patah bila kena ombak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kesimpulannya gampang: tidak ada hubungan antara perahu yang dibuat untuk ekspedisi ini dengan perahu-perahu yang digunakan di kawasan Oseania. Jadi, sejarah apa yang mau dibuktikan dengan pelayaran ini? Dengan kata lain: apakah menggunakan ‘sandeq’ yang bukan sandeq untuk merekonstruksikan suatu sejarah yang tak pernah terjadi bukankah suatu pembodohan bagi khalayak ramai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hal itu kami tanyakan kepada Yamamoto-San, beliau hanya ketawa: “Kalau tujuan saya sendiri bukan mengadakan satu pelayaran rekonstruksi sejarah, tetapi memperlihatkan, bahwa laut dapat mempersatukan bangsa-bangsa dunia ini!” Ya, Pak Yamamoto, kami sangatlah setuju. Tapi kok, dari apa yang ‘dijual-jual’ oleh pihak-pihak tertentu dalam proyek ini publik menyimpulkan kesan yang lain .... .Kami tahu, pelayaran ini hanya salah satu dari sekian banyak petualangan amat mengagumkan yang memang telah menjadi tujuan hidup sang penggagasnya, Yamamoto-San. Dalam berbagai diskusi dengan dia, kami sangat menghormati keberanian dan kepedulian beliau, dan kami juga tahu bahwa bukan dialah yang ingin menjual pelayaran petualangan ini sebagai suatu kegiatan semi-ilmiah. Yang harus kita sayangkan adalah para penumpang pada proyek itu – penumpang-penumpang yang tidak akan kita temui di atas perahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, keraguan kami tak berhenti di sini saja. Ada pun sebuah pepatah pelayar-pelayar barat yang berbunyi, “ke barat, adik, ke barat, janganlah ke timur.” Maksudnya, melawan angin timur yang terus-menerus berhembus di sabuk pasat tidak pernah mau disarankan oleh pelayar-pelayar terkemuka dunia. Misalnya, semua percobaan orang Spanyol untuk melawan angin trade winds di Samudra Pasifik itu gagal dan berakhir dalam kematian dan kehancuran - bacalah saja cerita pelayaran Saavedra dan Mendaña yang mengharukan dan memilukan itu. Pengalaman-pengalaman itu menyebabkan perahu-perahu layar Spanyol pada pelayaran Filipina - Amerika memilih sebuah rute yang melewati bagian utara Pasifik – dan rute itu pun amat susah, panjang, melelahkan, dan bahkan membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayar Polinesia memang mencoba menghadapi angin pasat itu dengan menggunakan suatu fenomena alam yang kita kenali sebagai El Niño, yaitu angin barat yang kadangkala muncul melawan angin pasat. Alasannya sama dengan yang digunakan hampir semua penemu benua baru yang cerdas, yakni coba ‘mencuri-curi jalan’ ke arah utama angin, agar ketika apa yang dicari tidak ditemukannya, sang pelayar dapat kembali cepat dengan menggunakan angin dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan-keterangan yang disampaikan Yamamoto-San dan teman-temannya, mereka berencana untuk mengambil haluan dari Tahiti ke arah selatan agar dapat menemukan angin yang menguntungkan di situ. Kawasan bagian selatan Samudra Pasifik terkenal sebagai the roaring fourties, artinya “empatpuluhan yang teriak-teriak”, suatu istilah yang menggambarkan bunyi di tali-tali tiang layar yang disebabkan oleh angin yang bertiup sangat kencang. Kawasan di antara 40o dan 50o Lintang Selatan itu terkenal sebagai salah satu wilayah laut yang paling treacherous, ‘paling berbahaya’, yang dikenali dalam dunia pelayaran. Memang, di kawasan itu terdapat angin barat yang bisa mendorong perahu ekspedisi ke Amerika – akan tetapi, angin itu amat sangat kencang, dan tidak pernah berhenti meribut ... cobalah Anda tanya ke pelayar-pelayar Australia mengenai cerita-cerita mereka akan kawasan itu. Dan cobalah Anda membayangkan berlayar dalam roaring fourties dengan sebuah perahu yang dibuat dengan terburu-buru, dengan alat keseimbangan yang tak seimbang, yang bahkan lagi dikurangi daya apungnya dengan sebuah lapisan fiberglass, suatu penambahan berat yang berkisar 10-20%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cermin Kepedulian?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan utama kami amat gampang: kalau memang mau mengharumkan nama Mandar, mengapa para pengurus proyek tidak menggunakan saja sandeq asli berukuran besar kalau yakin bahwa perahu sandeq itu dapat menempuh pelayaran tersebut. Karena ukuran, daya tahan, cara melayarkannya, dan sebagainya, teruji. Para pelaut Mandar pun sangat lincah dalam memakainya. Sekali lagi: kami sangat yakin sebuah perahu sandeq ‘biasa’ dapat menempuh pelayaran dengan rute yang direncanakan itu asal tidak dilakukan terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah di segala tingkatan sangat mendukung kegiatan Spirit of Asian Voyagers Expedition. Kegiatan ini dapat mempromosikan Sulawesi Barat sebagai provinsi baru, keulungan pelaut-pelaut Mandar, dan Indonesia sebagai benua maritim. Akan tetapi, kami meragukan komitmen pemerintah terhadap kebudayaan bahari yang lebih luas. Contoh kasus yang masih mempunyai benang merah adalah Sandeq Race: sejak lomba itu mulai ditangani pemerintah pada dua tahun silam ini, para peserta tak henti-hentinya mengeluh atas cara pelaksanaannya. Apakah Sandeq Race 2005 yang tinggal kurang tiga bulan lagi sudah ada di benak pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan kalau terjadi kekacauan dan pelecehan terhadap ketulusan dan kesahajaan pelaut Mandar: jajaran pemerintah, tepatnya sekian banyak ‘oknum’ di situ, tidak menghadapinya penuh cinta. Mereka hanya menganggap sandeq dan para pelayarnya sebagai pelengkap pada suatu komoditas dagang, komoditas pariwisata, alat untuk mengangkat gengsi daerah, dan proyek kebanggaan semu lainnya. Apakah mereka tidak menyadari, bahwa pada saat ini Sandeq Race adalah wadah terakhir yang terbukti mampu “memperpanjang nafas” tradisi kebaharian Mandar, ketika sandeq tidak dipakai lagi untuk melaut dan mencari ikan? Dan apakah mereka tahu, bahwa yang sebenarnya menjadi pewaris pengetahuan tradisi kebaharian Mandar adalah para nelayan, para pelaut, para tukang perahu, dan komunitas mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspedisi yang telah dimulai 15 Mei 2005 lalu adalah suatu kegiatan yang patut diapresiasi dengan baik. Penggagasnya, para tukang perahu dan pihak lain yang terlibat telah melakukan kerja keras; ratusan juta dana dikeluarkan untuk ekspedisi tersebut; dan jarak yang akan ditempuh adalah cerminan bahwa ekspedisi ini bukanlah kegiatan sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun – apakah perlu lagi dan lagi orang asing harus datang untuk mengingatkan kita akan sejarah kebaharian Nusantara? Dan apakah orang-orang Indonesia harus menjadi penumpang di situ – tak mampukah bangsa ini mengadakan kegiatan serupa dan sebesar itu secara mandiri? Dan – apakah perlu ada orang-orang kita yang mengharumkan diri dengan bermacam-macam kesemuan akan sejarah, budaya dan tradisi bahari Mandar dan Nusantara?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-8462617028968732661?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/8462617028968732661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=8462617028968732661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/8462617028968732661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/8462617028968732661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/sandeq-yang-bukan-sandeq.html' title='“Sandeq” yang bukan Sandeq'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-8682970825784075941</id><published>2007-09-20T20:48:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T20:50:53.850+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Perahu Sandeq Akan Jelajahi Pasifik Sejauh 40.000 Km</title><content type='html'>Dimuat di Kompas, Jumat, 17 Desember 2004&lt;br /&gt;*****************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kapal Phinisi Nusantara melayari samudra luas di dunia, kini perahu sandeq, yaitu perahu tradisional suku Mandar, Sulawesi Barat, akan melayari Lautan Pasifik sejauh 40.000 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rute perjalanan akan dimulai dari Makassar, kemudian menuju ke Papua Niugini, Peru (Amerika Selatan), Los Angeles (Amerika Serikat), Hawaii, Mikronesia, dan Filipina. Petualangan yang dijadwalkan Februari 2005 hingga April 2006 itu akan didukung pelaut-pelaut dari Jepang, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut koordinator penyelenggara, Irwan F Uno, dalam jumpa pers di Makassar, Kamis (16/12), pelayaran ini diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun. Tema yang hendak didengungkan dalam ekspedisi bertajuk "Spirit of Asian Voyagers" ini adalah untuk mengingatkan kejayaan bangsa Asia dalam petualangan bahari sejak ribuan tahun silam.&lt;br /&gt;Menurut Yoshiyuki Yamamoto, pencetus ide yang juga akan menjadi salah seorang awak perahu, petualangan ini bakal mengangkat citra bangsa Asia terutama suku Mandar. Karena itu, dibutuhkan kerja sama antarnegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau hanya satu negara saja sangat sulit. Karena itu, kerja sama antarnegara di Asia sangat penting. Apabila kami nanti tiba di Amerika Serikat, perhatian dunia akan tertuju pada perahu sandeq ini," papar Yamamoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asas Persaudaraan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Chinku Chen, pengelana dari Taiwan, "Dengan asas saling percaya, persaudaraan, bahkan kerelaan untuk mempersembahkan jiwa raga kepada sesama rekan, ekspedisi ini akan membawa awak perahu bersama-sama mengarungi Samudra Pasifik yang luas."&lt;br /&gt;Saat ini perahu sandeq yang akan digunakan tengah disiapkan di Desa Pambusuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, dipimpin H Zainuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direncanakan, pembuatan perahu selesai pada Februari 2005. Perahu sandeq itu berukuran panjang 17 meter, lebar dua meter (dengan cadik kiri-kanan 2 x 4 meter), tinggi 1,8 meter. Selain dilengkapi layar sebagai tenaga pendorong utama, juga akan dilengkapi mesin berdaya 10 HP (tenaga kuda), serta alat navigasi modern. Biaya pembuatan perahu itu sekitar 70.000 dollar AS.Zulkifli Gani Otto, Ketua Kompartemen Promosi dan Media Massa Kadin Sulsel, berjanji akan membantu mempromosikan ekspedisi tersebut. (ssd)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-8682970825784075941?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/8682970825784075941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=8682970825784075941' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/8682970825784075941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/8682970825784075941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/perahu-sandeq-akan-jelajahi-pasifik.html' title='Perahu Sandeq Akan Jelajahi Pasifik Sejauh 40.000 Km'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-7156276960089600026</id><published>2007-09-20T20:46:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T20:47:33.221+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Lomba Perahu Sandeq Mengenang Baharuddin Lopa</title><content type='html'>Dimuat di Kompas, Kamis, 12 Juli 2001&lt;br /&gt;***********************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas permintaan berbagai kalangan, terutamanya masyarakat Mandar, lomba perahu tradisional sandeq atau Sandeq Race yang kelima tahun 2001 ini dilaksanakan untuk mengenang almarhum Baharuddin Lopa. Selama empat tahun sebelumnya, Sandeq Race selalu diadakan untuk memperingati hari Kemerdekaan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian antara lain keputusan Tim Penyelenggara Sandeq Race V dalam sebuah pertemuan di Makassar, Rabu (11/7). Menurut penasihat senior Sandeq Race Dr Kolin Dg Matutu, keputusan ini diambil selain atas permintaan banyak kalangan, juga karena Baharuddin Lopa, lahir di Pambusuang, pusat pembuatan perahu sandeq dan desa asal sekian banyak peserta Sandeq Race.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Lopa memang lahir di Pambusuang, desa asal sekian banyak peserta Sandeq Race. Apalagi seperti tahun-tahun sebelumnya, lomba tahun ini pun diikuti puluhan peserta yang masih bertalian darah dengan beliau. Bahkan, keluarga besar Baharuddin Lopa tecatat sebagai pemilik beberapa perahu yang ikut dalam ajang lomba perahu tradisional terberat dan terpanjang di dunia ini," jelas Matutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, hal lain yang membedakan Sandeq Race tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah keberanian dan kejujuran Baharuddin Lopa yang akan menjiwai para passandeq dalam mengikuti lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba perahu sandeq tahun ini menurut rencana akan diikuti oleh 30 perahu sandeq terkemuka. Dari Pambusuang dan Majene dikabarkan para nelayan sudah mempersiapkan perahunya untuk berlomba. "Saat ini sebagin besar nelayan yang akan ikut lomba sudah tidak turun melaut. Mereka sibuk mempersiapkan perahunya. Untuk mengikuti lomba, para nelayan tidak begitu terbebani karena tim penyelenggara menyiapkan sejumlah dana untuk persiapan lomba," jelas M Safar, koordinator lapangan tim penyelengara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua Tim Penyelenggara, Horst Liebner mengatakan, sudah mendapat sinyal dari beberapa media elektronik dan cetak asing untuk meliput lomba perahu tradisional ini. "Sandeq Race 2001 sudah diincar oleh beberapa produsen film asing sebagai topik berita dan film dokumenter. Salah satunya adalah NHK, televisi Pemerintah Jepang. Selain itu beberapa wartawan media cetak dan elektronik lainnya dari Perancis, Belanda, Jerman, dan Inggris juga sudah berencana datang," jelas Horst. Lomba perahu ini selain menjadi ajang untuk mempromosikan berbagai potensi kekayaan alam dan pariwisata di Sulsel, juga dapat memberi gambaran kepada pihak luar tentang keadaan di Indonesia. (ren)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-7156276960089600026?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/7156276960089600026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=7156276960089600026' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/7156276960089600026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/7156276960089600026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/lomba-perahu-sandeq-mengenang.html' title='Lomba Perahu Sandeq Mengenang Baharuddin Lopa'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-6759925967203220840</id><published>2007-09-20T20:26:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T20:29:41.528+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Perahu Sandeq Makin Tersisih</title><content type='html'>Dimuat di harian Fajar Makassar, 3 Oktober 2005&lt;br /&gt;********************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANDEQ, perahu tradisional Mandar merupakan warisan leluhur sebagai sarana para nelayan untuk mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian. Selain itu, sebagai sarana transportasi para pedagang pada masa silam mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi. Perahu Sandeq, mempunyai ciri khas yang membedakan dengan kebanyakan perahu bercadik lainnya. Bahkan, Sandeq telah dilayarkan oleh bangsa asing mengarungi samudera, seperti ke Australia dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu bercadik yang ujungnya berbentuk runcing (lancip) dan catnya rata-rata putih bersih itu kini digantikan perahu bermesin yang kebanyakan digunakan nelayan Mandar sejak beberapa tahun terakhir. Kini, Sandeq makin tersisih. Para nelayan, lebih memilih perahu bermesin dengan berbagai alasan. "Menggunakan kapal lebih praktis karena digerakkan mesin, sedangkan dengan sandeq kita bergantung pada angin," Syarifuddin, nelayan Ba'barura, Desa Tangngatangnga, Kecamatan Tinambung, menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu bermotor lebih dikenal dengan sebutan kapal karena menggunakan mesin sama dengan kapal motor. Karena ketergantungan pada mesin, tidak sedikit nelayan tetap menggunakan perahu jenis Sandeq yang dilengkapi dengan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nelayan yang sebelumnya mengandalkan Sandeq, berargumen bahwa 'kapal' lebih praktis. Tidak membutuhkan tempat yang luas untuk berlabuh atau sekadar merapat di pantai untuk menjual ikan hasil tangkapan di laut. Mereka kesulitan juga mencari tempat saat merapat di pantai karena sayap Sandeq sangat gampang bersenggolan dengan perahu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandeq yang menjadi kebanggaan masyarakat Mandar, kini hanya difungsikan untuk lomba perahu yang belakangan populer dengan "Sandeq race" sebagai agenda tahunan menjelang HUT Proklamasi. Perahu sandeq yang beberapa tahun lalu banyak terlihat di pantai, kini berganti dengan jejeran perahu bermotor. Yang masih tersisa dapat dihitung dengan jari hanya menjadi 'penunggu' pantai. Model Sandeq masih ditemukan juga dalam bentuk lepa-lepa yaitu perahu kecil yang digunakan nelayan melaut tidak jauh dari pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Sandeq, selayaknya mendapat perhatian. Selain untuk melestarikan salah satu kebanggaan masa silam, juga untuk menyelamatkan modal yang tidak sedikit untuk membangun sebuah perahu sandeq. Membangun sebuah sandeq ukuran sederhana yaitu 3-4 ton diperlukan modal Rp6-7 juta. Sandeq yang dilengkapi beberapa peralatan khusus, membutuhkan tambahan biaya sedikitnya Rp2,5 juta. "Paling tidak kita harus sedia Rp10 juta," demikian Zubaer, pemilik beberapa perahu sandeq. Jumlah itu, kurang lebih sama untuk pembangunan sebuah kapal motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku "Polmas dalam Angka 2004", perahu tidak bermotor (jenis sandeq) tercatat 536, motor tempel 522 dan kapal motor 455 unit. Pada 2002 lalu, sandeq berjumlah 713 dan kapal motor 373 unit. Di Kecamatan Tinambung, jumlah kapal motor 151, sedangkan perahu 39 unti. Jumlah lebih sedikit, 33 unit di Kecamatan Balanipa dibanding kapal motor sebanyak 199 unit. Sandeq memang merupakan kebanggaan, tapi pada suatu saat hanya akan menjadi kenangan masa silam tanpa upaya yang kongkret untuk menyelamatkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-6759925967203220840?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/6759925967203220840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=6759925967203220840' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6759925967203220840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6759925967203220840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/perahu-sandeq-makin-tersisih.html' title='Perahu Sandeq Makin Tersisih'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-6820660966966078399</id><published>2007-09-07T16:16:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T20:35:44.711+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Mandar Berbenah dalam Bingkai Sulawesi Barat</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Diambil dari Kompas Online, Jumat, 7 September 2007&lt;br /&gt;************************************************* &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sebelum lepas dari Provinsi Sulawesi Selatan, wilayah Sulawesi Barat saat ini dulu lebih dikenal sebagai daerah Mandar. Sebutan itu mengacu pada mayoritas penduduknya yang berasal dari etnis Mandar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sejak berdiri sendiri sebagai Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) 5 Oktober 2004, daerah ini terus berbenah mengejar ketertinggalan. Maklum, dulu terpinggirkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Sulbar meliputi Kabupaten Mamuju, Mamuju Utara, Majene, Polewali Mandar, dan Mamasa. Jalan penghubung antarkabupaten sudah beraspal, dengan transportasi yang mudah dari simpul utama di Makassar, Sulawesi Selatan. Dari Makassar, untuk mencapai ibu kota Sulbar, Mamuju, dibutuhkan waktu sekitar 10 jam melalui darat. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Provinsi baru ini mengandalkan sektor perkebunan kakao, kelapa sawit, dan perikanan tangkap. Kelompok sektor pertanian itu menyumbang sekitar 55 persen (2005) dari total Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Perkebunan kakao dan kelapa sawit menjadi sektor yang diunggulkan. Lahan kakao yang sudah diusahakan mencapai 99.000 hektar (ha) dengan produksi 76.000 ton. Kelapa sawit baru 10.000 ha, tetapi lahan yang tersedia 45.000 ha. Perkebunan kelapa sawit terbesar ada di Mamuju. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sektor perikanan tangkap juga menjadi andalan dengan turunannya industri pengolahan ikan. Sektor ini banyak ditekuni karena terbatasnya lahan pertanian. "Di sini lebih banyak pegunungan batu yang setengah mati mengolahnya. Pertanian tidak mungkin berkembang," ujar Kaharuddin (28), warga Dusun Balemban, Pambusuang, Polewali Mandar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Di kampung-kampung nelayan itu berkembang juga industri rumah tangga seperti tenun sutra dan pengasapan ikan. Industri rumah tangga itu belum berkembang karena dukungan modal, peralatan, dan pemasaran masih lemah. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Di sektor pariwisata, Sulbar baru dikenal dengan Sandeq Race. Lomba balapan perahu sandeq itu menjadi gelaran akbar yang menyedot wisatawan lokal, tetapi belum mampu menarik wisatawan asing. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan sektor pariwisata menjadi perhatian Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, dengan mengalokasikan dana sekitar Rp 300 juta untuk sandeq race yang dikaitkan dengan promosi beberapa lokasi wisata lain, yaitu Pulau Karampuan, Kuburan Tua Laksa Laga, Masjid Nurut Taubah Lapeo di Polewali Mandar, dan Pantai Bahari Lombang-Lombang Mamuju. Sulbar memang belum mencapai perkembangan yang memuaskan. Mamuju belum bisa menjadi bandar besar untuk mengimbangi Makassar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Kerajaan Mandar pernah berjaya di abad ke-16, dengan membentuk federasi tujuh kerajaan di muara sungai (&lt;em&gt;pitu ba'bana binanga&lt;/em&gt;). Federasi itu kemudian bergabung dengan tujuh kerajaan di hulu sungai (&lt;em&gt;pitu ulunna salu&lt;/em&gt;). &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Maka, Mandar yang pernah tergabung dalam federasi pitu ba'bana binanga dan pitu ulunna salu harus dimaknai kembali untuk membangun Sulbar. Di era otonomi daerah, kebijakan di tingkat kabupaten harus sinkron dengan provinsi untuk mempercepat pembangunan. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Semangat itulah yang harus memotivasi masyarakat Mandar dalam mewujudkan kesejahteraan dalam bingkai Sulbar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-6820660966966078399?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/6820660966966078399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=6820660966966078399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6820660966966078399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/6820660966966078399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/mandar-berbenah-dalam-bingkai-sulawesi.html' title='Mandar Berbenah dalam Bingkai Sulawesi Barat'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-4130916098953530897</id><published>2007-09-07T16:04:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T20:43:34.188+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Sandeq dan Kearifan Lokal Suku Mandar</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Diambil dari Kompas Online, Jumat, 7 September 2007&lt;br /&gt;*************************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh AGUNG SETYAHADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Majene di Sulawesi Barat kembali disebut-sebut menyusul keberhasilan pengangkatan kotak hitam pesawat Adam- Air beberapa waktu lalu. Wilayah yang didiami etnis Mandar ini sempat hilang dari ingatan selama puluhan tahun. Di era 1930-1980, Majene dikenal sebagai kampungnya pelaut ulung berperahu sandeq. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sandeq adalah perahu layar tradisional khas Mandar. Sekilas, sandeq terkesan rapuh, tetapi di balik itu ternyata tersimpan kelincahan. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter. Di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sandeq mengandalkan dorongan angin yang ditangkap layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong sandeq hingga kecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting, kappal, dan bodi-bodi. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Kalau diibaratkan orang, sandeq berlari dan perahu lainnya berjalan," ujar Muhammad Ridwan Alimuddin, peneliti sandeq berdarah Mandar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Horst H Liebner, peneliti sandeq asal Jerman, menilai, tidak ada perahu tradisional yang sekuat dan secepat sandeq yang menjadi perahu tradisional tercepat di Austronesia. Meski kelihatan rapuh, sandeq tangguh mengarungi laut lepas Selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan.&lt;br /&gt;Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Para ’insinyur’ sandeq tampaknya sangat cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan. Sebab, Teluk Mandar memang langsung berhadapan dengan laut dalam tanpa penghalang, dengan angin kencang dan gelombang besar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sandeq harus bisa melaju cepat mengejar kawanan tuna yang sedang bermigrasi. Saat musim ikan terbang bertelur, nelayan menggunakan sandeq untuk memasang perangkap telur dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ikan dan telur ikan menjadi andalan utama ekonomi keluarga nelayan Mandar. Kepada pedagang perantara, para nelayan menjual telur ikan terbang bisa mencapai Rp 300.000 per kilogram, meski tahun ini hanya Rp 180.000 per kilogram. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Selain memburu rombongan ikan tuna dan cakalang, para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Dilombakan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Saat libur melaut karena kendala cuaca, nelayan Mandar biasa mengisi waktu dengan menggelar lomba sandeq. Dulu, lomba hanya mengadu kemampuan manuver. Setiap sandeq harus memutari area yang dibatasi tiga titik. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lomba ini membutuhkan kejelian membaca angin dan menentukan teknik manuver. Di sini nelayan diuji kepiawaian sebagai passandeq. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lomba sandeq masih bisa disaksikan hingga saat ini dalam Sandeq Race, seperti digelar pertengahan Agustus lalu dengan mengambil rute Mamuju di Sulawesi Barat ke Makassar di Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 300 mil laut. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang tumpah ke pantai untuk menyaksikan sandeq dari desanya bertanding dalam pesta tahunan nelayan Mandar yang kini sudah menjadi agenda tahunan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Bila dirunut ke belakang, sebenarnya adu cepat sandeq sudah ada sejak 1960-an. Dulu, lomba itu disebut lomba pasar, karena sandeq disewa oleh para pedagang untuk mengangkut barang dagangan ke setiap pasar di desa pesisir antara Majene dan Mamuju. Waktu itu, jalur laut sangat vital karena lebih cepat daripada transportasi darat yang masih terbatas. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan sangat dituntut oleh pemilik barang agar tiba di pasar yang ada di setiap desa lebih awal, sehingga sandeq langsung bisa parkir di dekat pasar untuk meraup sebanyak-banyaknya pembeli. Passandeq (awak sandeq) yang lambat tiba pasti akan dimarahi pemilik barang karena pasar sudah sepi, sehingga garang tak laku. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kecepatan dan ketangguhan sandeq juga bisa menjadi sasaran gerombolan perompak. Karena itu, para pemilik perahu yang tahu perahunya cepat mengakali dengan mengikat batu supaya tidak direbut para perompak untuk dijadikan sarana kejahatannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sepak terjang perompak ber-sandeq terbukti saat Horst berlayar menggunakan sandeq ke Bira, Sulawesi Selatan, pada pertengahan 1990-an. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;"Orang Bira masih ingat kehebatan sandeq karena semua kapal layar bisa dikejar oleh sandeq. Kalau saat ini masih ada gerombolan, orang Bira mau menukar pinisinya dengan sandeq," ujar Horst. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelestarian budaya&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lomba sandeq profesional dirancang oleh Horst pada tahun 1995. Sandeq Race merupakan usaha untuk melestarikan dan meneruskan budaya bahari Mandar yang terancam punah. Sandeq mengajarkan nelayan muda untuk membaca arus, membaca angin, serta ritual yang ada di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lomba ini gratis bagi nelayan Mandar, dan disediakan hadiah mencapai Rp 20 juta untuk juara umum. Semua peserta yang mencapai titik akhir juga memperoleh hadiah uang. Selama 10 hari mengikuti lomba, passandeq ditanggung biaya makannya, dan diberi uang untuk keluarga yang ditinggal. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Firdausy, passandeq dari Desa Pambusuang, Polewali Mandar, mengatakan, lomba sandeq mengandung unsur kebanggaan yang sangat tinggi. Pemenang lomba akan terangkat status sosialnya, dan menjadi buah bibir di masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan sebagai passandeq itulah yang mendorong Firdausy merogoh Rp 30 juta untuk membuat sandeq yang khusus digunakan untuk lomba. Di luar lomba, sandeqnya hanya disimpan di kolong rumah panggungnya. "Setiap bulan kita cat ulang supaya awet. Kalau sudah dekat perlombaan, sandeq dikeluarkan untuk latihan hingga hari perlombaan," ujar Firdausy. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sandeq Race yang telah 10 kali digelar merupakan usaha untuk melestarikan budaya bahari Mandar. Sebab, sejak awal 1990-an prahu bercadik ini makin hilang dari Teluk Mandar, dan digantikan perahu motor. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlombaan itu, jumlah sandeq terus bertambah. Tahun ini, 53 sandeq ikut Sandeq Race. Beberapa di antaranya adalah sandeq baru.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-4130916098953530897?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/4130916098953530897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=4130916098953530897' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/4130916098953530897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/4130916098953530897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/sandeq-dan-kearifan-lokal-suku-mandar.html' title='Sandeq dan Kearifan Lokal Suku Mandar'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2072163633247415011.post-1458028848688964620</id><published>2007-09-07T11:25:00.000+09:00</published><updated>2007-09-20T20:45:03.239+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Kalinda'da' 1</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Kumpulan kalinda'da' berikut ini diambil dari artikel "TEMA DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM KALINDA’DA’ MANDAR", ditulis oleh Oleh: Drs. Suradi Yasil, dimuat di dalam Jurnal Bosara (Media Informasi Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan) No. 5/6 tahun III, Juli – Oktober 1996 pada hal. 44 – 51. Diterjemahkan ulang dan ditafsir oleh Mustamin al-Mandary.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;**********************************&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mua’ mattoe’o pandeng&lt;br /&gt;Pakaramboi dzai’&lt;br /&gt;Diang manini&lt;br /&gt;Mappetondo dzai’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beru’-beru’ kambangao&lt;br /&gt;Pandeng malassuao&lt;br /&gt;Napuppi’ao&lt;br /&gt;I to soro’ mamboyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasammmesai saramu&lt;br /&gt;Dimitta’e-ta’ena&lt;br /&gt;Anna’ mu bebas&lt;br /&gt;Mattalattanang bura’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau engkau menggantung nenas&lt;br /&gt;Tempatkan pada tempat yang tinggi&lt;br /&gt;Siapa tahu nanti&lt;br /&gt;Ada yang menggantung (nenas) lebih tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati jangan sampai kau rusak&lt;br /&gt;Pandan jangan sampai kau layu&lt;br /&gt;Jangan sampai kau dipetik&lt;br /&gt;Orang yang mundur dari rumah tangganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulatkan kasihmu&lt;br /&gt;Dari kemungkinan percabangannya&lt;br /&gt;Agar engkau bebas&lt;br /&gt;Menaburkan benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalinda'da pertama memberikan pesan bahwa hendaknya dalam memberikan sesuatu, berikanlah yang terbaik. Pemberian itu bisa berupa apa saja: cinta, kasih, pengabdian, penghormatan, ketulusan, dan lain-lain. Di dalam bahasa Mandar, nenas sering menjadi perumpamaan dari gadis perawan di samping melati, tapi kelihatannya dalam konteks ini maknanya adalah cinta dan kasih sayang. Jadi, jika Anda mencintai seorang gadis, cintailah sepenuhnya, jangan sampai ada laki-laki lain yang memberikan kasih sayang yang lebih tinggi dan memalingkannya dari Anda. Tentu saja, pesan ini lebih tepat kepada seorang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalinda'da' kedua adalah pesan penting kepada seorang gadis. Orang tua selalu berpesan, jagalah sikap dan prilaku serta kata-kata dan ucapan karena itulah yang menjadi ukuran ke-&lt;em&gt;sitinaya&lt;/em&gt;-an (kepantasan) keperempuanan sang gadis. Jangan pula menjadi perempuan murahan. Biasanya, perempuan seperti ini jatuhnya kepada laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Di Mandar, laki-laki yang menceraikan istrinya dianggap tidak pantas untuk ditemani lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalinda'da' ketiga memberikan saran penting tentang kesempurnaan kasih sayang, pengabdian, penghormatan, atau apa saja kepada seseorang; bisa laki-laki kepada perempuan, anak kepada orang tua, bawahan kepada atasan, adik kepada kakak dan sebaliknya, dan lain-lain. Pesannya adalah, kesempurnaan sikap baik akan memberikan kesempurnaan manfaat kepada seseorang yang melakukan kebaikan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2072163633247415011-1458028848688964620?l=mandar-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mandar-online.blogspot.com/feeds/1458028848688964620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2072163633247415011&amp;postID=1458028848688964620' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/1458028848688964620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2072163633247415011/posts/default/1458028848688964620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mandar-online.blogspot.com/2007/09/kalindada-1.html' title='Kalinda&apos;da&apos; 1'/><author><name>Mandar Online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01035762285686071849</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry></feed>
